NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | Dalam upaya mendukung Program Strategis Nasional (PSN) di bidang kesehatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Persada Nabire menggelar Seminar dan Sosialisasi PSN bertajuk “Mewujudkan Generasi Emas Penuh Energi dengan Gizi Seimbang” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 di Aula Kampus STIKes Persada Nabire, Jalan Poros Samabusa, Waharia, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Kegiatan yang berlangsung penuh antusias ini dipimpin oleh Paula S. Pakage, Mahasiswi STIKes Persada Nabire sekaligus Ketua Lembaga Pemberdayaan Perempuan Asli Papua (LPPAP) Kabupaten Nabire, dan diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Nabire.
Seminar dan Sosialisasi ini merupakan bagian dari implementasi Program Strategis Nasional (PSN) di sektor kesehatan, khususnya dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan pengetahuan gizi seimbang bagi generasi muda.
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni:
• Nur Indah Fitriana Ibrahim, S.Gz., M.Gz. – Wakil Ketua STIKes Persada Nabire, dengan topik “Strategis Mahasiswa Mewujudkan Generasi Emas dalam Mendukung Program Strategi Nasional melalui Kolaborasi dan Sinergitas”
• Sri Wahyuni, S.KM., M.KM. – Ketua Program Studi Administrasi Kesehatan STIKes Persada Nabire, dengan topik “Peran Administrator dalam Mengelola Layanan Prima di Masa Krisis untuk Mendukung Keseimbangan Gizi Nasional.”

Kegiatan juga dimeriahkan oleh penampilan Tarian Nusantara dari Avatar Dance yang menampilkan budaya Indonesia Timur dengan penuh semangat.
Selain mahasiswa STIKes Persada Nabire, kegiatan ini juga dihadiri oleh:
• Adhi Hilardi, S.Kom., MM. – Ketua Yayasan STIKes Persada Nabire
• Nur Indah Fitriana Ibrahim, S.Gz., M.Gz. – Wakil Ketua STIKes Persada Nabire
• Sri Wahyuni, S.KM., M.KM. – Ketua Program Studi Administrasi Kesehatan
• Perwakilan Mahasiswa Poltekkes Jayapura Kampus Nabire
• Mahasiswa STIKes Papua Sehat
• Perwakilan Mapala USWIM Nabire
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan STIKes Persada Nabire, Adhi Hilardi, S.Kom., MM, menyampaikan apresiasinya kepada para mahasiswa dan panitia yang telah menggagas kegiatan edukatif ini.

“Seminar ini sangat penting karena berbicara tentang masa depan bangsa. Gizi seimbang bukan hanya tentang makanan, tapi juga tentang kualitas hidup. Mahasiswa perlu memahami bagaimana gizi berperan dalam meningkatkan kesehatan, daya pikir, dan prestasi,” ujarnya.
Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan penerapan ilmu gizi dalam kehidupan sehari-hari, agar masyarakat Papua Tengah dapat memiliki kualitas hidup yang lebih sehat dan produktif.
Kegiatan digelar pada Sabtu, 25 Oktober 2025, mulai pukul 08.46 WIT hingga 12.30 WIT, bertempat di Aula STIKes Persada Nabire.
Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama, menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Lagu Tanah Papua, sambutan-sambutan, pemaparan dua materi utama, hingga penyerahan sertifikat kepada narasumber.
Seminar berlangsung di Aula STIKes Persada Nabire, salah satu perguruan tinggi kesehatan ternama di Kabupaten Nabire. Lokasinya strategis, berada di Jalan Poros Samabusa, Distrik Teluk Kimi, yang menjadi salah satu kawasan pendidikan di Papua Tengah.
Kampus ini aktif melaksanakan berbagai program edukasi, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi dengan lembaga kesehatan serta pemerintah daerah, sejalan dengan misi PSN Kementerian Kesehatan RI.
Menurut Paula S. Pakage, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kekurangan gizi dan stunting di Papua Tengah, khususnya di wilayah Nabire. Data 2023–2024 menunjukkan prevalensi gizi buruk dan kurang gizi masih cukup signifikan pada ibu hamil dan anak-anak.

“Kami dari LPPAP ingin berkontribusi nyata mendukung pemerintah dalam menurunkan angka gizi buruk dan stunting di Papua Tengah. Seminar ini menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan lembaga perempuan asli Papua,” ujar Paula.
Paula juga menegaskan bahwa peran perempuan dan mahasiswa kesehatan sangat strategis dalam menyukseskan Program Strategis Nasional (PSN) di bidang gizi dan kesehatan masyarakat.
“Generasi emas hanya bisa lahir dari tubuh dan pikiran yang sehat. Kita ingin mahasiswa memahami bahwa isu gizi bukan sekadar teori, tapi tanggung jawab moral dan sosial bagi pembangunan manusia Papua yang unggul,” tambahnya.
Materi 1 Strategis Mahasiswa Mewujudkan Generasi Emas Disampaikan oleh Nur Indah Fitriana Ibrahim, S.Gz., M.Gz., materi pertama menyoroti pentingnya peran mahasiswa dalam mendukung Visi Indonesia Emas 2045.
Beliau memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi Papua Tengah, mulai dari tingginya angka stunting, gizi buruk, hingga pola konsumsi yang tidak seimbang. Mahasiswa, kata Nur Indah, tidak boleh menjadi penonton, tetapi harus menjadi agen perubahan melalui edukasi dan aksi nyata di lapangan.
“Program Strategis Nasional membutuhkan dukungan generasi muda yang aktif. Kolaborasi lintas sektor – antara kampus, pemerintah, dan masyarakat – sangat penting untuk menciptakan solusi berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perubahan paradigma dari konsep lama “4 Sehat 5 Sempurna” menjadi “Gizi Seimbang” sesuai Permenkes Nomor 41 Tahun 2014.

“Gizi seimbang berarti keseimbangan antara asupan dan kebutuhan tubuh, termasuk membatasi gula, garam, dan lemak berlebih serta membiasakan pola makan sehat dan aktif bergerak,” tambah Nur Indah.
Mahasiswa juga diimbau untuk berpartisipasi dalam program Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS), Gerakan Revolusi Mental, dan Program Sekolah Sehat yang menjadi bagian dari PSN.
Materi 2 Peran Administrator dalam Layanan Prima di Masa Krisis yang dibawakan oleh Sri Wahyuni, S.KM., M.KM. mengajak peserta memahami peran administrator kesehatan dalam memastikan pelayanan publik yang prima, terutama di masa krisis gizi.
“Administrator ibarat pengendara motor dalam program gizi. Program bisa berjalan, tetapi jika tidak dikendalikan dengan baik, tidak akan sampai pada tujuan,” jelasnya.
Sri Wahyuni memaparkan bahwa krisis gizi di Papua tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan, tetapi juga lemahnya sistem distribusi pangan, ketergantungan pada bantuan, dan minimnya SDM berkualitas.
Ia menekankan pentingnya layanan prima 5S (Senyum, Salam, Sapa, Santun, Sopan) serta keterampilan teknis, konseptual, interpersonal, dan digital bagi administrator.
“Kita butuh tenaga administrasi yang bukan hanya paham teori, tapi juga punya empati dan integritas. Layanan prima harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan,” tegasnya.
Sebagai solusi, ia mendorong penguatan digitalisasi data gizi, pelatihan kader kesehatan, serta integrasi lintas sektor antara BPS, Kemenkes, dan Dinas Ketahanan Pangan untuk mengatasi krisis distribusi pangan.
Menjelang akhir acara, tarian nusantara kembali ditampilkan oleh Avtar Dance sebagai bentuk ekspresi budaya dan semangat kebhinekaan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan oleh Ketua LPPAP Paula S. Pakage dan Ketua Yayasan Adhi Hilardi kepada kedua pemateri utama.

Dalam kesempatan tersebut, Adhi Hilardi menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta.
“Mahasiswa STIKes Persada Nabire telah menunjukkan semangat luar biasa. PSN bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Dengan memahami pentingnya gizi seimbang, kita sedang menyiapkan pondasi bagi generasi emas Papua Tengah,” ujarnya penuh semangat.
Program Strategis Nasional (PSN) di bidang gizi merupakan bagian penting dari strategi pemerintah untuk membangun sumber daya manusia unggul. Papua Tengah, dengan tantangan geografis dan sosial yang khas, menjadi wilayah prioritas dalam implementasi program gizi, pangan, dan kesehatan.
Melalui kegiatan seperti yang digagas STIKes Persada Nabire, PSN dapat diterjemahkan dalam bentuk edukasi, kolaborasi, dan aksi langsung di masyarakat.
Diharapkan, mahasiswa kesehatan di Papua Tengah dapat menjadi agen perubahan yang membawa kesadaran gizi hingga ke pelosok kampung.

Kegiatan Seminar dan Sosialisasi Program Strategis Nasional (PSN) di STIKes Persada Nabire bukan sekadar acara akademik, melainkan gerakan moral untuk membangun kesadaran gizi dan kesehatan di kalangan generasi muda.
Dengan semangat “Generasi Emas Penuh Energi dengan Gizi Seimbang,” seluruh peserta diingatkan bahwa kesehatan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari strategi nasional dalam menciptakan Indonesia Emas 2045.













