NEWS BUSUR NABIRE.ID –Nabire: Papua Tengah | Satgaswil Papua Densus 88 Antiteror Polri terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda melalui program “Satgaswil Papua Densus 88 Goes to School” yang dilaksanakan di 11 sekolah di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada 11–17 Juli 2026.

Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tersebut, IPDA Saiful,SE., hadir sebagai pemateri yang memberikan edukasi kepada ratusan pelajar mengenai pentingnya wawasan kebangsaan, literasi digital, toleransi, serta pencegahan radikalisme dan terorisme sejak usia dini.
Mengawali kegiatan, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penguatan semangat nasionalisme. Selanjutnya, para siswa mengikuti pemaparan materi yang dikemas secara interaktif mengenai etika bermedia digital, tren perkembangan terorisme, bahaya perundungan (bullying), pentingnya toleransi, hingga pemutaran film edukatif tentang keragaman budaya Indonesia dan perlawanan terhadap terorisme.
Dalam penyampaiannya, IPDA Saiful,SE., menjelaskan bahwa radikalisasi bukanlah proses yang terjadi secara instan, melainkan berkembang secara bertahap mulai dari perubahan pola pikir hingga berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan apabila tidak dicegah sejak dini.
Menurutnya, pendidikan karakter menjadi benteng utama untuk melindungi generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat persatuan bangsa.
“Generasi muda harus menjadi pribadi yang berpikir kritis, menghargai perbedaan, bijak dalam menggunakan media sosial, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar. Persatuan bangsa harus dijaga bersama,” ujar IPDA Saiful saat memberikan materi.

Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Karena itu, para pelajar diminta untuk meningkatkan literasi digital dengan membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menjaga etika dalam berkomunikasi di media sosial, serta menggunakan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan membangun prestasi.
Dalam kesempatan tersebut, IPDA Saiful memperkenalkan konsep Generasi Cerdas Digital, yaitu generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, berkarakter, serta mampu memanfaatkan teknologi secara positif demi kemajuan bangsa.
Selain itu, ia juga menjelaskan tahapan berkembangnya paham terorisme melalui ilustrasi sebuah pohon. Menurutnya, akar dari terorisme adalah intoleransi, batangnya adalah radikalisme, sedangkan buahnya merupakan ekstremisme yang berujung pada aksi terorisme.

Untuk memudahkan pemahaman siswa, IPDA Saiful juga mengenalkan konsep IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) sebagai rangkaian proses yang harus dipahami agar dapat dicegah sejak tahap awal.
Menurutnya, apabila sikap intoleran dapat dicegah melalui pendidikan karakter, penguatan nilai kebangsaan, dan budaya saling menghormati, maka peluang berkembangnya radikalisme maupun terorisme akan semakin kecil.
Dalam sesi literasi digital, IPDA Saiful.SE., turut mengingatkan bahwa kelompok radikal kini semakin aktif memanfaatkan media sosial dan game online sebagai sarana perekrutan, khususnya terhadap anak-anak dan remaja yang sedang berada pada masa pencarian jati diri.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya literasi digital, emosi yang masih labil, serta tingginya aktivitas di dunia maya membuat anak-anak menjadi kelompok yang rentan dipengaruhi apabila tidak mendapatkan pendampingan dari keluarga maupun sekolah.

Oleh sebab itu, IPDA Saiful mengajak seluruh siswa untuk menjadi pengguna internet yang cerdas dengan menjaga privasi, menggunakan bahasa yang santun, menghormati karya orang lain, serta selalu menyaring setiap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Di akhir penyampaian materinya, IPDA Saiful mengajak seluruh pelajar menjadi pelopor perdamaian di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui sikap toleran, cinta damai, menghargai keberagaman, serta menolak segala bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Program Satgaswil Papua Densus 88 Goes to School dilaksanakan di 11 sekolah di Kabupaten Nabire, yakni SMA Negeri 1 Nabire, SMA Negeri 2 Nabire, SMK Negeri 1 Nabire, SMK Negeri 2 Nabire, SMK YPPK Tebernakel Nabire, SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, SMA Al-Madina Nabire, SMP Negeri 1 Nabire, SMP Negeri 4 Nabire, SMP Al-Madina Nabire, dan SMP YAPIS Nabire.
Melalui kegiatan ini, Satgaswil Papua Densus 88 berharap lahir generasi muda Papua Tengah yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, cerdas dalam memanfaatkan teknologi digital, serta mampu menjadi agen perdamaian yang menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. (Red)













