NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | UNICEF menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh upaya Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam mengeliminasi malaria, sebagai bagian dari perlindungan hak-hak anak dan keadilan sosial di wilayah tersebut.
Hal itu disampaikan langsung oleh Amiludin M. Ramdan, Perwakilan UNICEF, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Deklarasi Eliminasi Malaria Papua Tengah yang berlangsung di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, kawasan Bandara Lama Nabire, pada Jumat, 1 Agustus 2025.

“Kegiatan ini merupakan kehormatan bagi UNICEF untuk hadir dan menjadi bagian dari deklarasi eliminasi malaria di Papua Tengah. Malaria bagi kami bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga soal perlindungan anak dan keadilan sosial,” ungkap Amiludin.
Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi betapa malaria telah menjadi ancaman nyata bagi kelompok rentan, khususnya anak-anak dan ibu hamil. Banyak anak di Tanah Papua, bahkan sebelum bisa berbicara, telah terpapar malaria. Ibu hamil yang tengah mengandung pun harus berjuang menghadapi penyakit tersebut demi menyelamatkan dua nyawa diri dan anak yang dikandung.

Mengutip data dari Dinas Kesehatan Papua Tengah, Amiludin menyebutkan bahwa sekitar 12% kasus malaria terjadi pada anak usia di bawah lima tahun, yang setara dengan sekitar 19.000 balita, dan 19% atau sekitar 32.000 kasus dialami oleh pelajar usia sekolah.
“Itu berarti puluhan ribu anak yang seharusnya belajar dan berkembang, justru harus berjuang melawan penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Ini adalah kegagalan kolektif kita,” tegasnya.
Menurut UNICEF, malaria bukan hanya membuat anak-anak absen sekolah dan kehilangan konsentrasi, tetapi juga mengganggu tumbuh kembang mereka. Oleh sebab itu, UNICEF mengapresiasi strategi pemerintah Papua Tengah melalui pendekatan “TOKKEN” (Temukan, Obati, Kendalikan Vektor), yang dianggap sebagai inovasi penting karena berbasis komunitas dan menyentuh hingga kampung-kampung terpencil.
“Kami ingin ‘TOKKEN’ tidak sekadar menjadi akronim, tapi menjadi gerakan yang mengubah budaya—di mana eliminasi malaria dimulai dari rumah, ke kampung, distrik, hingga provinsi,” ujarnya.
UNICEF juga mendorong agar strategi ini diterjemahkan ke dalam aksi nyata seperti penimbunan genangan air, kampanye kelambu, dan menjadikan setiap rumah, sekolah, dan kampung sebagai benteng pertama mencegah malaria.
Tak hanya itu, UNICEF menyatakan kesiapannya mendukung dari sisi teknis, terutama dalam penguatan sistem kesehatan, komunikasi perubahan perilaku yang efektif, dan penggunaan data berbasis bukti agar tidak ada daerah yang tertinggal dalam eliminasi malaria.
Menjelang akhir tahun, UNICEF juga mendorong dicanangkannya gerakan sosial “Natal Tanpa Malaria”, sebagai simbol harapan bersama.
“Bayangkan indahnya perayaan Natal tanpa tangisan anak karena malaria. Natal di mana seluruh keluarga bisa berkumpul sehat tanpa harus menjaga anggota keluarganya yang terbaring sakit,” tuturnya.
Sebagai penutup, Amiludin menegaskan bahwa UNICEF akan terus berjalan bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan seluruh mitra untuk membangun masa depan anak-anak Papua yang sehat sejak usia dini.













