>

Andreas Gobay Soroti Film Pesta Babi, Kritik Keras Arah Pembangunan di Papua

By BusurNabire.id
Kamis, 21 Mei 2026 10:01 WIB | 10 Views
Andreas Gobay Soroti Film Pesta Babi, Kritik Keras Arah Pembangunan di Papua (Foto: Istimewa)

NEWSBUSURNABIRE.ID – Nabire –Papua Tengah |  Akademisi Papua Tengah, Andreas Gobay, menyampaikan pandangannya terkait film dokumenter Pesta Babi atau dalam bahasa Panai (Mapiha) disebut Huwoo, yang belakangan ramai diperbincangkan publik karena menyoroti isu pembangunan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat adat di Papua.

Dalam keterangannya kepada awak media pada Selasa (18/5/2026), Andreas Gobay, S. Sos.,MA menegaskan bahwa film tersebut bukan sekadar dokumenter biasa, melainkan cermin nyata tentang wajah pembangunan di Tanah Papua yang perlu menjadi bahan refleksi bersama.

Andreas Gobay Soroti Film Pesta Babi, Kritik Keras Arah Pembangunan di Papua (Foto: Istimewa)

Menurutnya, setelah menyaksikan film tersebut, ia merasakan kegelisahan mendalam tentang bagaimana pembangunan kerap hadir dengan logika target produksi dan investasi, namun sering mengabaikan dimensi sosial, budaya, serta relasi spiritual masyarakat adat dengan tanahnya.

“Film ini menyentuh sisi paling mendasar dari kehidupan orang Papua. Ia menunjukkan bahwa hutan bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi rumah, identitas, dan ruang spiritual masyarakat adat,” ujar Andreas.

Ia menggambarkan bagaimana film tersebut menghadirkan suasana emosional melalui visualisasi hutan Papua yang sunyi, rawa-rawa yang mistis, pesta adat yang intim, lalu secara kontras dipotong oleh suara ekskavator, alat berat, jalan-jalan lurus, serta kehadiran aparat yang menjaga proyek pembangunan.

“Benturan visual ini sangat kuat. Penonton diajak merasakan kecemasan sebuah peradaban yang sedang menghadapi ancaman kehilangan ruang hidupnya,” katanya.

Andreas menjelaskan, dalam perspektif sosiologi, film Pesta Babi sangat relevan dibaca melalui teori modernisasi. Teori tersebut menjelaskan bahwa pembangunan sering dipahami sebagai proses membawa masyarakat tradisional menuju masyarakat modern melalui industrialisasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan produksi ekonomi.

Namun, menurutnya, persoalan muncul ketika modernisasi diterapkan secara seragam tanpa memahami struktur sosial dan budaya lokal masyarakat Papua.

“Negara melihat hutan sebagai sumber daya ekonomi yang harus dioptimalkan demi pertumbuhan nasional. Tetapi sering kali pendekatan itu datang secara memaksa dan mengabaikan realitas sosial masyarakat adat,” jelasnya.

Baca Juga  Ketua Bhayangkari Papua Tengah Tinjau TK Kemala Mimika, Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini

Ia juga menyoroti relevansi pemikiran konflik sosial ala Karl Marx dalam konteks pembangunan di Papua. Menurut Andreas, ketika tanah adat yang selama ratusan tahun menjadi ruang hidup bersama berubah menjadi ruang produksi kapital dan investasi, masyarakat adat akan mengalami keterasingan dari tanah yang menjadi identitas mereka sendiri.

Selain itu, Andreas menyebut teori konflik otoritas yang dikemukakan Ralf Dahrendorf turut menjelaskan kondisi Papua hari ini.

“Ketika pembangunan diputuskan dari atas tanpa partisipasi masyarakat adat, maka konflik sosial hampir pasti muncul. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi soal relasi kuasa,” tegasnya.

Dari sudut pandang antropologi, Andreas menilai film tersebut berhasil memperlihatkan bahwa hutan bagi orang Papua adalah ruang kosmologi yang mengandung makna budaya, spiritualitas, dan memori kolektif.

“Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah bahasa alam, sejarah leluhur, dan identitas sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi paradigma developmentalisme yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran kemajuan.

Menurutnya, pembangunan yang mengabaikan ekologi dan manusia lokal justru melahirkan luka sosial baru berupa kemiskinan struktural, konflik tanah, kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, serta menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Karena itu, Andreas menegaskan bahwa pembangunan di Papua tidak boleh hanya diukur dari panjang jalan, luas pembukaan lahan, atau besarnya investasi yang masuk.

“Pembangunan sejati adalah pembangunan yang menghormati manusia, budaya, dan alam secara bersamaan. Papua bukan tanah kosong. Papua adalah rumah bagi banyak peradaban kecil yang hidup dengan cara mereka sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, film Pesta Babi mengajarkan satu pelajaran moral yang sangat penting, bahwa pembangunan tanpa dialog dapat berubah menjadi bentuk kekerasan yang sunyi.

Baca Juga  DPR Papua Tengah Siapkan Perda Mangrove, John NR Gobai: Tahun Ini Mulai Dibahas

“Negara mungkin berhasil membangun industri dan infrastruktur, tetapi jika masyarakat kehilangan identitas, tanah adat, dan ruang hidupnya, maka pembangunan itu hanya akan meninggalkan luka panjang,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Andreas menyampaikan refleksi mendalam yang menurutnya menjadi pertanyaan moral terbesar bagi semua pihak.

“Mungkin suara seorang ibu tua yang menangis sambil menggenggam sagu dalam film itu adalah pertanyaan terbesar bagi kita semua: apakah pembangunan harus selalu berarti kehilangan?” pungkasnya.

Andreas menutup keterangannya dengan ucapan syukur dan harapan agar seluruh pihak diberi kebijaksanaan dalam memandang masa depan Papua.

“Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati. Koha.”.

Berita Terkait

WhatsApp Image 2026-04-02 at 13.08.35
Polda Papua Tengah mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H
Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah Beserta Staf dan Jajaran mengucapkan Selamat Hari Raya NYE
WhatsApp Image 2026-03-19 at 23.10.55
WhatsApp Image 2026-03-20 at 22.08.45
Selamat-Hari-Lahir-4-1024x1024
Terbaru
Berita Populer
Nasional
Topik Populer
Anda tidak boleh menyalin konten halaman milik News.busurnabire.id ini
Tutup
Tutup