NEWSBUSURNABIRE.ID : Mimika – Kemenangan SMAN 3 Kokonao pada ajang Mini Soccer Kapolda Papua Tengah Cup tingkat SMA/SMK 2026 bukan sekadar soal mengangkat trofi juara. Lebih dari itu, keberhasilan ini menjadi simbol perjuangan anak-anak dari daerah terpencil di pesisir Mimika yang mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih prestasi besar.

Berasal dari Distrik Mimika Barat, wilayah pesisir tua di tepian Laut Arafura, perjalanan menuju Kota Timika bukanlah hal mudah bagi para siswa SMAN 3 Kokonao. Mereka harus menempuh perjalanan laut dan sungai selama berjam-jam hanya untuk sampai ke pusat kota.
Kondisi geografis yang sulit, minimnya fasilitas olahraga, hingga keterbatasan perhatian pembangunan selama ini membuat banyak pihak tak pernah membayangkan tim dari kampung pesisir ini mampu menorehkan sejarah di ajang bergengsi Mini Soccer Kapolda Papua Tengah Cup.
Namun, dari keterbatasan itu justru lahir semangat juang yang luar biasa.

Tanpa fasilitas latihan modern seperti sekolah-sekolah besar di Kota Timika, tanpa lapangan representatif, bahkan sempat dipandang sebelah mata karena berasal dari kampung terpencil, para pemain SMAN 3 Kokonao menjawab semua keraguan di atas lapangan.
Bertanding di Gold Stone Arena Mini Soccer Timika, mereka tampil penuh percaya diri dengan permainan cepat, teknik matang, dan kekuatan fisik impresif.
Puncaknya terjadi pada partai final, Kamis (21/5/2026), ketika SMAN 3 Kokonao sukses menaklukkan SMA Taruna Timika dengan skor meyakinkan 3-0, sekaligus memastikan diri keluar sebagai juara Mini Soccer Kapolda Papua Tengah Cup 2026.
Kemenangan itu bukan hanya milik tim sekolah, tetapi menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Kokonao.
Di kampung halaman mereka, suasana final berubah layaknya pesta rakyat kecil. Warga rela meninggalkan aktivitas sehari-hari demi menonton pertandingan melalui layar lebar sederhana yang dipasang di Polsek Mimika Barat.

Anak-anak, orang tua, hingga tokoh masyarakat berkumpul bersama memberi dukungan kepada tim kebanggaan mereka.
Bagi masyarakat Kokonao, melihat anak-anak kampung mereka mampu menumbangkan sekolah-sekolah besar di Timika adalah kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Salah satu pemain SMAN 3 Kokonao, Edison Atury, mengaku bangga atas pencapaian timnya.
“Saya bangga bisa mengikuti kompetisi ini. Ini menjadi prestasi besar yang kami peroleh sejauh ini, baik untuk sekolah maupun daerah kami. Karena selama ini kami sangat minim mengikuti kompetisi seperti ini. Terima kasih kepada sekolah, guru, polisi, dan Bapak Kapolsek yang telah memfasilitasi kami,” ujarnya.
Tak hanya membawa pulang trofi juara, Edison juga meraih penghargaan individu pada turnamen tersebut.
Ia mengaku terharu karena dukungan masyarakat Kokonao begitu besar meskipun hanya melalui layar sederhana di kampung.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolda yang telah menyelenggarakan pertandingan ini. Setelah ini saya bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional. Kemenangan ini kami persembahkan untuk keluarga kami di Kokonao dan seluruh masyarakat di sana. Kami tidak sabar pulang untuk mengarak piala ini di kampung,” katanya penuh haru.
Kapolsek Mimika Barat, Ipda Muhamad Yani, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap laga final sangat luar biasa.

Menurutnya, pertandingan tersebut menjadi momen bersejarah bagi generasi muda Kokonao.
“Ini salah satu pertandingan terbesar yang pernah diikuti anak-anak di sini. Orang tua merasa perlu mendukung dan memberikan semangat walaupun dengan kondisi seadanya,” katanya.
Ia mengaku awalnya tidak menyangka antusiasme masyarakat akan sebesar itu.
Namun rasa bangga melihat perjuangan anak-anak Kokonao membuat warga rela meninggalkan pekerjaan demi menonton pertandingan bersama.
“Kami sendiri awalnya tidak berpikir sejauh ini. Ternyata para orang tua dan anak-anak rela meninggalkan aktivitasnya hanya menunggu anaknya bertanding. Ya kira-kira seperti menonton Piala Dunia, apalagi tim kita bisa menang,” ujarnya.
Kisah SMAN 3 Kokonao juara Mini Soccer Kapolda Papua Tengah Cup menjadi bukti nyata bahwa anak-anak Papua memiliki potensi besar yang sering kali tersembunyi karena keterbatasan ruang dan kesempatan.
Turnamen ini membuka panggung bagi talenta-talenta muda Papua untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Bukan tidak mungkin, dari kampung kecil di pesisir Laut Arafura ini akan lahir bintang sepak bola masa depan Papua, penerus nama besar seperti Boaz Solossa hingga Evan Soumilena.
Perjalanan SMAN 3 Kokonao akhirnya bukan sekadar tentang sepak bola, tetapi tentang keberanian melawan keterbatasan, tentang semangat pantang menyerah, dan tentang mimpi besar yang tumbuh dari kampung kecil di ujung Laut Arafura.













