NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire, Papua Tengah | Kondisi abrasi di Sungai Wanggar (Menou), tepatnya di Kampung Wanggar Pantai, Distrik Yaro, Kabupaten Nabire, semakin memprihatinkan. Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengungkapkan keprihatinannya usai meninjau langsung lokasi terdampak.
Hal tersebut disampaikan John Gobai dalam rilis resmi kepada awak media pada Senin, 23 Maret 2026.

Perjalanan yang ditempuh dari Kota Nabire menuju Sungai Wanggar memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Namun, setibanya di lokasi, Gobai menemukan kondisi yang jauh lebih buruk dibandingkan kunjungan sebelumnya.
“Saya sudah tiga kali sejak tahun 2023 datang ke tempat ini dan sudah menyampaikan agar segera ditangani sebelum semakin parah,” ujarnya.
Abrasi yang terus terjadi menyebabkan badan jalan di kawasan tersebut kini putus total. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu karena harus melewati kebun-kebun milik warga sebagai jalur alternatif.
Kondisi ini semakin menyulitkan mobilitas warga, terutama dalam aktivitas ekonomi dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan, masyarakat terpaksa bergotong-royong membuka jalan alternatif secara swadaya demi tetap bisa beraktivitas.
“Jalan sudah putus, masyarakat sekarang lewat kebun-kebun. Mereka juga bangun jalan alternatif sendiri,” jelas Gobai.
Melihat kondisi yang semakin parah, Gobai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan ini. Ia menegaskan bahwa langkah cepat harus segera diambil sebelum abrasi berdampak lebih luas, termasuk merusak rumah warga.
“Apakah pemerintah mau bertindak setelah ada rumah warga yang terkena abrasi?” tegasnya.
Ia berharap, setelah momentum Lebaran, pemerintah daerah maupun pihak terkait segera mengambil langkah konkret. Salah satu solusi yang diusulkan adalah normalisasi atau revitalisasi alur Sungai Wanggar agar kembali ke jalur semestinya.
“Saya berharap usai Lebaran ada langkah nyata, mungkin normalisasi atau revitalisasi alur sungai, atau solusi lain yang benar-benar berdampak,” tambahnya.
Sementara itu, Tokoh Pemuda Nabire, Norton Karubui, memberikan pandangan berbeda terkait penyebab utama abrasi tersebut.
Menurutnya, penanganan di hilir saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan perbaikan kondisi di bagian hulu sungai. Ia menyoroti aktivitas penambangan dan pembalakan liar di hulu Kali Wanggar sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.
“Menormalisasi atau merevitalisasi alur sungai itu baik, tetapi penambangan dan pembalakan liar di hulu Kali Wanggar itulah penyebab utama. Perbaiki hulu, pasti hilir aman,” tegasnya.
Masyarakat Wanggar Pantai kini hidup dalam kekhawatiran. Jika tidak segera ditangani, abrasi dikhawatirkan akan terus meluas dan mengancam permukiman warga.
Dengan kondisi jalan yang sudah terputus dan akses yang semakin sulit, warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum dampak yang lebih besar terjadi.
Penanganan komprehensif dari hulu hingga hilir dinilai menjadi solusi utama agar abrasi Sungai Wanggar tidak terus berulang setiap tahun.













