NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE, PAPUA TENGAH – Menjelang rencana penyampaian aspirasi oleh mahasiswa asal Dogiyai di Kabupaten Nabire, Kepala Suku Besar Mee Wilayah Meepago, Melkias Keiya, mengeluarkan seruan tegas agar seluruh mahasiswa mengedepankan dialog bermartabat demi menjaga situasi keamanan tetap kondusif di ibu kota Provinsi Papua Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Melkias Keiya pada Minggu (10/5/2026), menyikapi berkembangnya informasi terkait rencana aksi mahasiswa yang dijadwalkan berlangsung di Nabire.
Menurut Melkias, aspirasi masyarakat maupun mahasiswa merupakan bagian dari hak demokrasi yang dijamin negara. Namun, ia menilai penyampaiannya perlu dilakukan secara bijaksana melalui mekanisme audiensi resmi, bukan dengan pengerahan massa besar yang berpotensi memicu gangguan ketertiban umum.
“Penyampaian aspirasi sebaiknya dilakukan melalui perwakilan mahasiswa yang bertemu langsung dengan pihak berwenang, baik pemerintah daerah maupun unsur legislatif. Ini langkah yang lebih terhormat dan mencerminkan kedewasaan berpikir,” ujar Melkias kepada wartawan.
Ia menekankan bahwa pola komunikasi yang mengedepankan dialog terbuka akan jauh lebih efektif untuk menghasilkan solusi konkret dibanding aksi turun ke jalan yang berisiko memunculkan gesekan di lapangan.
Menurutnya, Nabire sebagai pusat pemerintahan Papua Tengah saat ini membutuhkan stabilitas agar aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.
“Kita harus menjaga kota ini tetap aman. Jangan sampai aktivitas ekonomi warga terganggu, akses transportasi terhambat, atau muncul keresahan hanya karena cara penyampaian aspirasi yang kurang tepat,” katanya.
Sebagai tokoh sentral masyarakat Mee di wilayah Meepago, Melkias juga mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk menahan diri dari tindakan provokatif maupun aksi-aksi yang berpotensi menimbulkan benturan dengan aparat keamanan ataupun masyarakat umum.
Ia menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan secara santun akan lebih dihormati dan memiliki ruang lebih besar untuk didengar oleh pemerintah.
“Kalau memang ada tuntutan yang ingin disampaikan, lakukan dengan kepala dingin. Jangan ada tindakan anarkis, jangan ada provokasi. Mari tunjukkan bahwa mahasiswa Papua Tengah adalah generasi intelektual yang mampu menyampaikan pendapat secara terhormat,” tegasnya.
Melkias mengingatkan bahwa keamanan dan ketertiban di Nabire bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Papua Tengah.
Menurutnya, suasana damai adalah fondasi utama agar pembangunan, pendidikan, pelayanan publik, dan roda ekonomi masyarakat dapat terus berjalan tanpa gangguan.
“Kita semua punya tanggung jawab menjaga Nabire sebagai rumah bersama. Kalau kota ini aman, maka masyarakat bisa bekerja, belajar, dan beraktivitas tanpa rasa khawatir,” pungkasnya.
Seruan ini diharapkan menjadi perhatian seluruh pihak agar setiap bentuk penyampaian aspirasi tetap berlangsung dalam koridor hukum, damai, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan di Tanah Papua.












