NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | Ribuan nelayan di Distrik Napan, Kabupaten Nabire, kini menghadapi krisis serius akibat tidak tersedianya Rumpon. Sudah hampir lima tahun terakhir, nelayan setempat kesulitan melaut karena rumpon yang menjadi penopang mata pencaharian mereka rusak dan tidak diperbaiki.

Keluhan ini disampaikan Martina Singgamui, perempuan Papua tengah asal Napan, Kabupaten Nabire saat ditemui awak media di Caffe Gez, Oyehe Nabire, Rabu (10/9/2025). Ia mengungkapkan keresahan nelayan dan mendesak pemerintah segera hadir membantu berita tersebut dilansir dari Wipanews.com
“Pemerintah Kabupaten Nabire dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah mohon perhatikan bapak-bapak kami yang sehari-hari melaut di kepulauan. Tolong bikinkan Rumpon untuk menunjang kehidupan mereka,” ujarnya dengan penuh harap.
Menurut Martina, ketiadaan rumpon telah membuat nelayan bekerja tidak maksimal. Bahkan, sebagian warga terpaksa membuat rumpon bambu seadanya, namun hasilnya tidak efektif.
“Sudah lima tahun warga Napan kesulitan melaut. Tanpa rumpon, nelayan hanya berspekulasi saat mencari ikan. Padahal rumpon adalah rumah buatan ikan, yang membuat ikan betah berkumpul sehingga mudah ditangkap,” jelasnya.
Ia menegaskan, Rumpon adalah tumpuan utama kehidupan nelayan Napan. Dari hasil melaut, mereka membiayai sekolah anak-anak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menopang perekonomian sehari-hari.
“Kalau dulu masih ada rumpon, nelayan lebih mudah mencari ikan. Sekarang sudah tidak ada, apalagi cuaca sering berubah-ubah, nelayan makin kesulitan. Kalau cuaca buruk, kami biasanya hanya mengandalkan tangkapan di sekitar rumpon. Tapi sekarang nasib kami benar-benar bergantung pada keberuntungan,” katanya prihatin.
Hingga berita ini diturunkan, upaya awak media menghubungi pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nabire maupun Provinsi Papua Tengah belum mendapat respons.
Krisis rumpon di Distrik Napan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah agar segera mengambil langkah nyata. Sebab, keberadaan Rumpon bukan sekadar infrastruktur, tetapi nafas hidup ribuan nelayan yang menggantungkan masa depan keluarganya dari hasil laut.













