NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE | Gelombang penolakan terhadap rencana eksploitasi tambang emas Blok Wabu di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, kembali disuarakan. Kali ini, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua (SMRP) akan menggelar aksi demo jilid kedua secara damai di Kabupaten Nabire, Kamis, 17 Juli 2025.

Dalam keterangan persnya, Daud Tigau, mewakili penanggung jawab aksi, mengisahkan perjalanan aksi demo jilid pertama yang berlangsung pada 18 Januari 2024.
“Saat itu kami sudah melakukan aksi bersama rakyat Papua dan menyampaikan aspirasi langsung ke Gubernur Papua Tengah. Ibu Ribka Haluk masih menjabat sebagai Pj Gubernur. Namun, hingga lebih dari satu tahun, tidak ada kejelasan atas aspirasi kami,” ungkap Daud dalam konferensi pers di Nabire, Rabu (16/7/2025).
Ia menegaskan, aksi demo jilid kedua merupakan bentuk komitmen dan perjanjian moral mahasiswa dengan masyarakat pemilik hak ulayat wilayah Blok Wabu di Intan Jaya.
“Kami mahasiswa bertindak sebagai fasilitator. Aksi ini murni untuk menyuarakan hak rakyat Papua, khususnya yang tanahnya terancam eksploitasi tambang,” tambah Daud.
Koordinator Lapangan Umum, Henok Weya, menjelaskan bahwa aksi akan dilakukan di empat titik strategis:
- SP-1 Pasar
- Jepara 2
- Karang Tumaritis
- Siriwini
Seluruh massa aksi akan menuju Kantor Gubernur Provinsi Papua Tengah sebagai titik akhir untuk menyampaikan tuntutan utama: menolak investasi dan eksploitasi tambang emas Blok Wabu oleh negara dan korporasi.
“Kami mengajak semua elemen masyarakat Papua Tengah ikut bergabung dalam aksi damai ini. Kami tidak ingin tanah dan alam Papua dirusak atas nama investasi,” ujar Hinogoya.
Korlap Umum lainnya, Fransiskus Kobogau, menegaskan bahwa aksi ini sepenuhnya murni gerakan mahasiswa dan rakyat Papua, tanpa campur tangan dari pihak manapun.
“Kami melarang keras peserta aksi membawa alat tajam, mabuk-mabukan, atau membawa minuman keras. Ini adalah aksi damai dan terorganisir,” kata Fransiskus.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama dari demonstrasi ini bukan untuk mengacaukan situasi, tetapi untuk menyampaikan aspirasi secara bermartabat dan damai.
“Kami ingin pemerintah mendengar langsung suara rakyat Papua. Kami tidak ingin dieksploitasi di atas tanah kami sendiri,” pungkasnya.
Aksi ini ditutup dengan pekikan semangat dari para peserta:
“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Papua! Hidup Alam Tanah Papua!”
Aksi damai ini menjadi simbol perjuangan masyarakat Papua melawan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berpihak pada rakyat. Mereka meminta pemerintah untuk menghentikan segala bentuk investasi tambang yang merugikan masyarakat adat dan lingkungan hidup Papua.













