>

Raja Ampat: Surga Laut Dunia Terancam Penambangan Nikel, Warga dan Aktivis Serukan #SaveRajaAmpat

By BusurNabire.id
Minggu, 8 Juni 2025 08:30 WIB | 820 Views
Raja Ampat yang terletak di ujung barat Provinsi Papua Barat merupakan kabupaten kepulauan yang terdiri dari empat gugusan pulau utama: Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta (Foto: Busur Nabire)

NEWS.BUSURNABIRE.ID -Nabire | Raja Ampat yang terletak di ujung barat Provinsi Papua Barat merupakan kabupaten kepulauan yang terdiri dari empat gugusan pulau utama: Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta. Selain dikenal dengan panorama lautnya yang luar biasa, kawasan ini juga menyimpan sejarah unik yang menjadi asal-usul namanya.

Konon, nama Raja Ampat berasal dari kisah seorang wanita yang menemukan tujuh telur, empat di antaranya menetas menjadi pangeran. Keempat pangeran tersebut kemudian menjadi raja di empat pulau besar tadi. Mitos ini diwariskan turun-temurun dan mengakar dalam budaya masyarakat lokal.

Raja Ampat yang terletak di ujung barat Provinsi Papua Barat merupakan kabupaten kepulauan yang terdiri dari empat gugusan pulau utama: Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta (Foto: Busur Nabire)

Lebih dari sekadar legenda, Raja Ampat adalah salah satu destinasi wisata bahari terbaik di dunia. Lautan jernihnya memantulkan langit biru sempurna, menyimpan lebih dari 450 spesies terumbu karang, serta dihuni oleh 186 varietas burung, 13 jenis reptil, dan puluhan spesies flora langka seperti kantong semar dan anggrek endemik. Tidak heran kawasan ini sering dijuluki sebagai “sepenggal surga yang jatuh ke bumi” dan menjadi UNESCO World Heritage tentative list.

Namun, keindahan Raja Ampat kini tengah terancam oleh ekspansi penambangan nikel di beberapa wilayah sensitif, seperti Pulau Gag, Kawe, Manuran, Batang Pele, dan Manyaifun. Berdasarkan laporan investigasi yang diterbitkan oleh The Australian (2025), perusahaan tambang seperti PT Aneka Tambang (Antam) dan PT Anugerah Surya Pratama tengah membuka akses pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan pesisir dan laut.

Sumber dari Associated Press (Januari 2025) menyebutkan bahwa izin tambang di kawasan Raja Ampat telah meningkat tiga kali lipat sejak 2020, mencapai 22.420 hektare. Aktivitas tambang ini menyebabkan deforestasi, erosi tanah, dan sedimentasi, yang sangat membahayakan terumbu karang dan habitat laut.

Baca Juga  Panen Raya Jagung Polda Papua Tengah di Nabire Perkuat Ketahanan Pangan Nasional 2026

“Kalau ini dibiarkan, habis sudah tempat kami mencari ikan, dan wisatawan tidak akan mau datang lagi,” ujar Yunus Dama, nelayan di Pulau Gag (sumber: APNews, 2025).

Adapun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa empat perusahaan tambang nikel di wilayah Raja Ampat telah melakukan berbagai pelanggaran serius terhadap peraturan lingkungan hidup dan tata kelola pulau-pulau kecil. Aktivitas ini tidak hanya mencemari alam, tetapi juga mengancam ekosistem laut yang menjadi daya tarik utama Raja Ampat di mata dunia.

Berikut ini profil singkat keempat perusahaan tersebut, dilansir dari Kompas.com, yang kini menjadi sorotan dalam kampanye #SaveRajaAmpat:

1. PT Gag Nikel

PT Gag Nikel merupakan anak usaha dari BUMN PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, yang beroperasi di Pulau Gag dengan luas sekitar 6.030,53 hektare.
Aktivitasnya tergolong melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, karena menambang di wilayah pulau kecil.
Perusahaan ini awalnya dikuasai Asia Pacific Nickel Pty Ltd, sebelum diakuisisi penuh oleh Antam pada 2008. Berdasarkan data Kementerian ESDM, izin produksinya berlaku hingga 2027.

2. PT Anugerah Surya Pratama

Perusahaan ini merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) dari China yang beroperasi di Pulau Manuran seluas ±756 hektare. Diketahui perusahaan ini tidak memiliki sistem pengelolaan limbah dan dokumen lingkungan memadai, yang membuat aktivitasnya bertentangan dengan UU Pesisir.
Anugerah Surya Pratama merupakan bagian dari Wanxiang Nickel Indonesia, grup tambang raksasa asal Tiongkok yang juga beroperasi di Morowali, Sulawesi Tengah.

3. PT Mulia Raymond Perkasa

PT Mulia Raymond Perkasa melakukan penambangan di Pulau Batang Pele. Meski informasi tentang perusahaan ini sangat terbatas, diketahui mereka tidak memiliki dokumen lingkungan dan PPKH (Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan), sehingga kegiatan eksplorasi akhirnya dihentikan.
Kantor pusat perusahaan ini berada di Jakarta Pusat.

Baca Juga  Kajati Papua Tiba di Nabire, Perkuat Pengawasan Proyek Strategis Lewat MoU Bersejarah

4. PT Kawei Sejahtera Mining

Perusahaan ini memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang valid hingga 2033 dan beroperasi di Pulau Kawe. Namun, terbukti membuka area tambang di luar izin lingkungan dan kawasan PPKH seluas 5 hektare, yang menyebabkan sedimentasi di pesisir pantai.
Atas pelanggaran tersebut, PT Kawei Sejahtera Mining dikenai sanksi administratif serta terancam gugatan hukum perdata.

Tak tinggal diam, sejumlah aktivis lingkungan dan warga lokal kini melancarkan kampanye bertajuk #SaveRajaAmpat di berbagai platform media sosial. Kampanye ini mendesak pemerintah untuk mencabut izin tambang dan menjadikan seluruh kawasan Raja Ampat sebagai zona perlindungan ekosistem laut yang ketat.

Dalam konteks pariwisata, ancaman ini bisa menjadi bencana ekonomi. PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) melalui laporan The Jakarta Post (2024), menyampaikan kekhawatiran bahwa penambangan akan merusak citra Raja Ampat sebagai destinasi dunia dan mengganggu sektor wisata yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Maka dari itu, di tengah ancaman eksploitasi, semangat pelestarian harus dikobarkan. Jika Anda merencanakan liburan ke Raja Ampat, berikut beberapa aktivitas seru dan ramah lingkungan yang bisa Anda lakukan:

5 Aktivitas Seru di Raja Ampat

  1. Diving di Pulau Misool – Nikmati keindahan bawah laut yang masih alami dengan 76 dive spot terbaik.
  2. Snorkeling di perairan dangkal Wayag atau Arborek – Cocok bagi yang tidak menyelam namun ingin menyaksikan ikan tropis dan karang warna-warni.
  3. Fish Feeding di perahu tradisional – Pengalaman memberi makan ikan di permukaan laut jernih.
  4. Trekking dan Panorama Pulau Wayag – Melihat gugusan pulau dari ketinggian seperti di atas lukisan.
  5. Air Terjun Batanta – Destinasi segar di tengah hutan Raja Ampat, cocok untuk pecinta alam dan fotografer.
Baca Juga  Meki Nawipa Gebrak Tata Kelola Bersih, MoU Besar Papua Tengah Resmi Diteken

Raja Ampat bukan hanya milik Papua atau Indonesia, tapi juga warisan dunia yang harus dijaga bersama. Dengan menyuarakan kampanye #SaveRajaAmpat, kita tidak hanya menyelamatkan keanekaragaman hayati, tetapi juga masa depan pariwisata berkelanjutan dan masyarakat adat yang menggantungkan hidup dari alam.

Sumber:

  • The Australian, Indonesia nickel miners eye world-prized, pristine UNESCO site, 2025
  • Associated Press, Nickel mining threatens Indonesia’s marine treasure, 30 Januari 2025
  • The Jakarta Post, PHRI warns of tourism decline over mining threat in Raja Ampat, November 2024
  • Data Biodiversitas Raja Ampat – WWF Indonesia, 2024
  • https://www.grid.id/read/044259837/terkuak-profil-4-perusahaan-pemilik-tambang-nikel-di-raja-ampat-ada-perusahaan-dari-china

Berita Terkait

WhatsApp Image 2026-04-02 at 13.08.35
Polda Papua Tengah mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H
Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah Beserta Staf dan Jajaran mengucapkan Selamat Hari Raya NYE
WhatsApp Image 2026-03-19 at 23.10.55
WhatsApp Image 2026-03-20 at 22.08.45
Selamat-Hari-Lahir-4-1024x1024
Terbaru
Berita Populer
Nasional
Topik Populer
Anda tidak boleh menyalin konten halaman milik News.busurnabire.id ini
Tutup
Tutup