NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE, PAPUA TENGAH — Pemerintah Kabupaten Nabire bersama TNI bergerak cepat menangani krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Distrik Nabire Barat akibat kemarau panjang.

Kekeringan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat sejumlah sumber air dan sumur tradisional warga mengering. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak, mencuci hingga mandi.
Sebagai langkah penanganan, Pemkab Nabire mendapat dukungan dari TNI untuk mencari sumber air bawah tanah yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui survei titik sumber air menggunakan metode geolistrik.
Tim Geolistrik Yonif TP 804/DBAY turut diterjunkan untuk melakukan survei dan pemetaan potensi sumber air bawah tanah di sejumlah wilayah terdampak kekeringan.

Survei geolistrik dilakukan untuk mengetahui kondisi lapisan bawah permukaan tanah dan menentukan titik yang memiliki potensi cadangan air. Langkah ini dilakukan sebelum pengeboran agar pembangunan sumur bor dapat diarahkan pada lokasi yang memiliki peluang mendapatkan sumber air memadai.
Danramil 1705-01/Nabire, Kapten Inf La Sabara, mengatakan hasil penyisiran di lapangan berhasil menemukan lima titik yang dinilai memiliki potensi sumber air.
“Dari hasil penyisiran, kami berhasil mendapatkan lima titik lokasi, yakni di Waroki, Gerbangsadu, SP 3 Kampung Wadio, SP 1, serta SP 2,” kata La Sabara kepada wartawan di Nabire, Sabtu (29/8/2026).

Kelima titik tersebut selanjutnya dipersiapkan untuk pembangunan sumur bor sebagai bagian dari upaya penanganan krisis air bersih di wilayah Nabire Barat.
Pemkab Nabire bersama Koramil 1705-01/Nabire merencanakan pengerjaan fisik kelima sumur bor tersebut mulai dilakukan secara serentak pada Senin mendatang.
La Sabara berharap pembangunan sumur bor dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Kami berharap, ketika pembangunan sumur bor selesai, masyarakat dapat menggunakannya dengan maksimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Keterlibatan Tim Geolistrik Yonif TP 804/DBAY menjadi bagian penting dalam proses pencarian sumber air. Survei dilakukan untuk memetakan kondisi bawah tanah sehingga titik pengeboran dapat ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan.
Dengan metode tersebut, pemerintah dan TNI berupaya memastikan pengeboran dilakukan pada lokasi yang memiliki indikasi cadangan air, sehingga dapat mengurangi risiko pengeboran pada titik yang tidak menghasilkan sumber air memadai.
Hasil survei kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan lokasi pembangunan sumur bor untuk masyarakat.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kampung Wadio SP 3, Distrik Nabire Barat.
Pemkab Nabire telah menyiapkan bantuan satu unit sumur bor yang rencananya dibangun di sekitar Masjid Al-Ansor. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki lahan yang cukup luas serta mudah dijangkau masyarakat.
Kepala Kampung Wadio, Wartina, mengatakan bantuan sumur bor sangat dibutuhkan karena kekeringan telah berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih.
“Pemerintah Kampung Wadio mendapatkan satu unit sumur bor yang rencananya akan dibangun di sekitar masjid untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat di seputaran Kampung Wadio,” kata Wartina.

Menurutnya, apabila hasil pengeboran menemukan air yang layak digunakan, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kalau nanti sumur ini mendapatkan air bersih yang layak untuk konsumsi, mencuci maupun mandi, warga akan lebih cepat mendapatkan akses untuk mengambil air,” jelasnya.
Namun, apabila hasil survei dan pengeboran menunjukkan sumber air di lokasi tersebut tidak memadai, pemerintah kampung bersama pihak terkait akan mempertimbangkan titik lain yang dinilai lebih potensial, seperti balai kampung.
Wartina mengatakan dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan dari sisi ketersediaan air bersih, tetapi juga memengaruhi aktivitas pertanian masyarakat.
Sebagian petani mengalami gagal panen karena keterbatasan air. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin membutuhkan dukungan pemerintah untuk menghadapi dampak kekeringan.

Selain itu, warga juga terganggu oleh kabut asap yang menyelimuti wilayah Kampung Wadio. Sejumlah warga mengeluhkan mata pedih dan terkadang mengalami sesak napas.
“Dampaknya sangat besar. Pertama, kekeringan kepada para petani sehingga ada yang gagal total panen. Kedua, kami sangat kekurangan air bersih. Ketiga, dari sisi kesehatan, mata terasa pedih dan terkadang napas juga terasa sesak,” ungkap Wartina.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan warga yang secara langsung dinyatakan mengalami ISPA akibat paparan asap.
Pemerintah Kampung Wadio juga terus melakukan pemantauan untuk mengetahui sumber kabut asap, namun titik sumber asap belum ditemukan berada di dalam wilayah kampung.
Wartina mengatakan untuk sementara pihaknya baru mengetahui adanya satu unit sumur bor yang akan diberikan kepada Kampung Wadio.
Ia berharap bantuan tersebut segera direalisasikan dan dukungan pemerintah dapat terus ditingkatkan, termasuk melalui BPBD maupun pemerintah pusat.
“Kita sementara baru mengetahui satu unit. Mudah-mudahan nantinya ada tambahan bantuan dari kementerian atau melalui BPBD,” pungkasnya.

Kolaborasi Pemkab Nabire, Koramil 1705-01/Nabire dan Tim Geolistrik Yonif TP 804/DBAY diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadapi krisis air bersih akibat kemarau panjang.
Dengan ditemukannya lima titik potensial sumber air, pembangunan sumur bor diharapkan dapat segera dilakukan sehingga masyarakat Nabire Barat memiliki akses air bersih yang lebih mudah dan berkelanjutan.













