NEWS.BUSURNABIRE.ID — Nabire | Dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat adat terhadap potensi ekonomi kelautan, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire menggelar kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Ekonomi Kelautan bagi nelayan tradisional pada Selasa, 28 Oktober 2025, bertempat di Sekretariat LMA Nabire, Jalan C.H. Martatiahahu, Kelurahan Kalibobo, Distrik Nabire, Papua Tengah.

Kegiatan yang berlangsung sejak dipimpin langsung oleh Karel Misiro, selaku Ketua LMA Kabupaten Nabire, didampingi Pilemon Musendi, S.Pd., M.Si, Sekretaris I LMA Nabire, dan diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari tokoh adat, masyarakat pesisir, serta perwakilan kelompok nelayan tradisional.
Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat pesisir untuk memahami bagaimana sektor kelautan dapat menjadi tulang punggung ekonomi lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan dimulai pada pukul 15.21 WIT dan diawali dengan sambutan oleh Sekretaris I LMA Nabire, Pilemon Musendi, S.Pd., M.Si, yang menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengelola potensi laut secara berkelanjutan.

“Kita patut bersyukur dan bangga bisa hadir dalam sosialisasi penting ini. Laut adalah sumber kekayaan alam yang berlimpah dan berperan besar dalam kehidupan masyarakat pesisir,” ujarnya.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin bersama-sama mendalami potensi laut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik melalui perikanan tangkap, budidaya, maupun pengolahan hasil laut,” lanjutnya.
Pilemon berharap kegiatan tersebut menjadi ruang edukatif yang membuka wawasan masyarakat, mendorong inovasi, serta memperkuat sinergi antar-pihak dalam mengelola sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Karel Misiro, Ketua LMA Nabire, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini bukan hanya seremoni, tetapi wujud nyata dari komitmen LMA untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat adat.
“Mari kita jadikan forum ini sebagai wadah diskusi untuk memajukan ekonomi kelautan di daerah kita. Upaya yang kita lakukan hari ini harus membawa berkat dan kemajuan bagi masyarakat Nabire,” tegasnya.
“Dengan mengucap syukur, saya nyatakan secara resmi kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Adat tentang Ekonomi Kelautan ini dibuka. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati setiap langkah dan niat baik kita bersama.”
Memasuki sesi utama pukul 15.28 WIT, Pilemon Musendi memaparkan materi sosialisasi dengan tema “Pemberdayaan Ekonomi Kelautan Bagi Nelayan Tradisional”. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa peran nelayan sangat vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Nelayan adalah garda terdepan penyedia protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Melalui hasil tangkapan laut, mereka membantu negara dalam menjaga ketahanan pangan,” jelas Pilemon.
Ia menyoroti bahwa pemerintah kini tengah memperkuat konsep ekonomi biru sebagai pilar penting dalam ketahanan pangan nasional, yang menekankan keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi laut dan pelestarian ekosistem.

Pilemon juga mengingatkan bahwa setiap tanggal 6 April, Indonesia memperingati Hari Nelayan Nasional. sebuah momentum penting untuk menghargai jasa nelayan. Namun, menurutnya, masih banyak nelayan tradisional yang menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan alat tangkap hingga kurangnya akses terhadap teknologi dan pasar.
“Sebagian besar nelayan kita masih menggunakan peralatan tradisional dan belum memahami pentingnya keberlanjutan sumber daya laut. Inilah tantangan besar yang harus kita atasi bersama,” ungkapnya.
Pilemon menilai bahwa pendampingan berbasis edukasi dan teknologi menjadi kunci utama untuk mengatasi tantangan tersebut. Ia mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan tangkapan ikan, tetapi juga mulai mengembangkan budidaya rumput laut dan pengolahan hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi.
Selain itu, pemerintah diharapkan hadir lebih kuat dalam memberikan fasilitasi peralatan tangkap modern serta memperhatikan zona tangkap yang berpihak pada nelayan kecil.
“Banyak nelayan kita yang tidak mampu melaut lebih dari 12 mil karena keterbatasan alat. Harus ada dukungan nyata agar mereka bisa berdaya saing,” ujarnya.
Pilemon menambahkan, pendidikan dan pelatihan harus diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.
“Kita ingin masyarakat nelayan menjadi lebih cerdas, terampil, dan mampu beradaptasi dengan teknologi. Dengan begitu, mereka bisa berkontribusi nyata pada ekonomi daerah maupun nasional,” tuturnya.
Dalam sesi berikutnya, Pilemon juga menjelaskan berbagai manfaat ikan bagi kesehatan, mulai dari menjaga fungsi otak hingga melindungi jantung.
Ia menyebut bahwa asam lemak omega-3 pada ikan berperan besar dalam membangun sel otak dan mencegah gangguan kognitif. Selain itu, ikan juga membantu menjaga kesehatan jantung, mata, kulit, hingga kualitas tidur.
Namun, ia juga mengingatkan masyarakat agar memilih jenis ikan yang segar dan menghindari konsumsi ikan asin berlebihan, karena kandungan garam yang tinggi dapat menyebabkan hipertensi.

“Konsumsi ikan itu penting, tapi harus dilakukan secara bijak. Pilih ikan segar dan perhatikan cara pengolahannya,” pesannya.
Pilemon menegaskan bahwa nelayan memiliki peran strategis dalam masyarakat, bukan hanya sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai penjaga wilayah laut dan penggerak ekonomi lokal.
Ia menyebut lima peran utama nelayan:
- Penyedia protein hewani untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
- Penggerak ekonomi lokal melalui aktivitas penangkapan dan perdagangan hasil laut.
- Penjaga kedaulatan wilayah laut, terutama di pulau-pulau terluar.
- Pengelola sumber daya laut yang bertanggung jawab terhadap kelestarian ekosistem.
- Agen perubahan sosial, karena memiliki pengetahuan lokal tentang laut dan potensi ekonomi di dalamnya.
“Nelayan bukan hanya pencari ikan, mereka adalah pahlawan ekonomi bangsa,” tegasnya.
Dalam materi lanjutannya, Pilemon menjelaskan tentang jenis-jenis habitat ikan, yaitu air tawar, air laut, dan air payau, serta menjelaskan bahwa beberapa ikan memiliki kemampuan unik untuk berpindah habitat.
“Ikan diadromous seperti salmon dan belut dapat hidup di dua jenis perairan, berpindah antara laut dan sungai untuk berkembang biak. Ini menjadi contoh penting dalam studi kelautan dan potensi budidaya,” paparnya.
Ia berharap masyarakat pesisir dapat memahami keanekaragaman sumber daya laut ini sebagai potensi ekonomi baru, terutama dalam pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan.
Menjelang akhir sosialisasi, Pilemon kembali mengingatkan bahwa kegiatan ini harus menjadi awal langkah nyata pemberdayaan nelayan tradisional di Nabire.
“Pengetahuan tanpa tindakan tidak akan membawa hasil. Mari kita wujudkan bersama rencana yang sudah kita diskusikan. Bagi yang tertarik memulai budidaya, mari segera bergerak. Bagi yang ingin meningkatkan hasil tangkapan, mari terapkan teknologi ramah lingkungan,” ajaknya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan ekonomi kelautan bergantung pada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga adat.
“Manfaatkan modal usaha yang sudah ada, perluas jaringan pemasaran, dan jangan ragu berinovasi dengan produk olahan laut. Keberhasilan ekonomi kelautan ada di tangan kita sendiri,” tuturnya optimistis.
Pada pukul 16.06 WIT, kegiatan ditutup dengan sambutan dari Ketua LMA Nabire, Karel Misiro, yang memberikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menegaskan pentingnya kesinambungan kegiatan ini agar hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
“Sosialisasi ini harus menjadi titik awal bagi kita semua. Jangan berhenti di sini. Mari lanjutkan dengan aksi nyata agar laut benar-benar menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang,” ujar Karel.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, Karel Misiro juga menyerahkan paket sembako secara simbolis kepada perwakilan nelayan peserta sosialisasi. Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama sebagai tanda kebersamaan dan komitmen untuk terus memajukan ekonomi kelautan di Papua Tengah.

Melalui kegiatan ini, LMA Kabupaten Nabire menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat adat di sektor ekonomi. Lembaga ini percaya bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga.
Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat adat, diharapkan ke depan muncul generasi nelayan yang cerdas, inovatif, dan mandiri dalam mengelola potensi kelautan.
“Kami yakin, dengan semangat gotong royong dan tekad kuat, ekonomi kelautan di wilayah kita akan semakin maju. Kita tidak hanya meningkatkan pendapatan, tapi juga membangun kemandirian masyarakat adat yang lebih kuat,” pungkas Pilemon Musendi menutup sesi.
Kegiatan berakhir, dengan suasana penuh keakraban dan semangat baru untuk mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan demi kemajuan Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua Tengah.













