NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire |Forum Komunikasi Mahasiswa/i Kabupaten Intan Jaya (FKMI) Kota Studi Nabire resmi melaksanakan kegiatan penerimaan anggota baru sekaligus malam keakraban (Makrab) pada Sabtu, 27 September 2025, bertempat di Pantai Budi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Kegiatan yang berlangsung penuh kebersamaan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asal Intan Jaya untuk memperkuat solidaritas. Selain agenda penerimaan anggota baru, FKMI juga menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi keamanan di Kabupaten Intan Jaya yang dinilai masih memprihatinkan.
Dalam kesempatan tersebut, pengurus inti FKMI, Daud Tigau, menegaskan bahwa mahasiswa merasa resah atas terus bertambahnya pengiriman pasukan TNI non-organik ke wilayah Intan Jaya sejak 2019 hingga 2025.
Menurutnya, keberadaan aparat dengan jumlah besar berdampak pada aktivitas masyarakat, bahkan fasilitas umum seperti sekolah, gereja, dan rumah warga kerap dijadikan lokasi penempatan perlengkapan militer. Hal ini, kata Daud, turut menambah rasa trauma dan penderitaan masyarakat sipil.
“Situasi ini membuat masyarakat terus mengalami kerugian, baik secara moril maupun materil. Banyak yang mengungsi, bahkan menjadi korban di tanah mereka sendiri,” ujar Daud Tigau dalam pernyataannya.
FKMI Kota Studi Nabire kemudian merilis sikap resmi sebagai bentuk aspirasi mahasiswa Intan Jaya, antara lain:
- Meminta Presiden Prabowo Subianto segera menarik pasukan TNI non-organik dari Intan Jaya.
- Mendesak Panglima TNI untuk menghentikan penempatan pasukan non-organik di wilayah Intan Jaya.
- Meminta Pangdam XVII/Cenderawasih dan Kapolda Papua Tengah untuk segera menghentikan praktik yang merugikan masyarakat sipil Papua.
- Menegaskan agar TNI non-organik tidak lagi menjadikan sekolah, gereja, dan rumah warga sebagai lokasi penempatan senjata atau fasilitas militer.
- Meminta Presiden dan Panglima TNI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik-praktik aparat yang bertugas di Papua.
Kegiatan Makrab FKMI ini tidak hanya menjadi ajang perekrutan anggota baru, tetapi juga wadah mempererat kebersamaan mahasiswa asal Intan Jaya yang sedang menempuh studi di Nabire. Melalui forum ini, mereka berharap suara generasi muda bisa menjadi perhatian pemerintah dalam menyikapi persoalan di tanah Papua.
“FKMI hadir bukan hanya untuk belajar bersama, tetapi juga sebagai corong aspirasi masyarakat Intan Jaya. Kami ingin pemerintah mendengar jeritan rakyat kecil yang terdampak,” tegas Daud Tigau menutup pernyataannya.
Dengan pernyataan sikap tersebut, FKMI Kota Studi Nabire menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu kemanusiaan yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan dan kedamaian di Papua.













