NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Provinsi Papua Tengah menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-1 yang berlangsung di Aula RRI Nabire. Kegiatan penting ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, S.H., sebagai bentuk dukungan penuh Pemerintah Provinsi terhadap penguatan peran dunia usaha di tanah Papua Tengah.
Mengangkat tema “APINDO Berinovasi dan Membangun Papua Tengah Menuju Pertumbuhan Ekonomi Daerah,” Musprov ini menjadi momentum strategis dalam mendorong kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan Papua Tengah yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Kegiatan dibuka dengan laporan panitia oleh Fransiskus Pekey, Ketua Karateker APINDO Papua Tengah. Dalam sambutannya, Pekey menegaskan pentingnya kemandirian organisasi. “Seluruh pembiayaan Musprov ini bersumber dari swadaya para pengurus dan simpatisan. Ini mencerminkan semangat membangun organisasi profesional yang tidak bergantung pada anggaran negara,” ujarnya.

Fransiskus juga menyoroti potensi besar Papua Tengah. “Dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah, wilayah ini layak mendapatkan ruang setara dalam sistem ekonomi nasional,” jelasnya. Musprov ini, menurutnya, menjadi wadah demokrasi ekonomi daerah untuk memperkuat peran UMKM, koperasi, dan pelaku industri lokal.
Anthony Hilman, Ketua Bidang Organisasi DPN APINDO, turut memberikan arahan strategis. Ia menyampaikan bahwa Papua Tengah menyimpan potensi ekonomi besar seperti produk olahan dari hasil laut, sagu, cokelat hutan, rotan, hingga peluang industri berbasis wisata alam dan budaya seperti Danau Paniai, Teluk Cenderawasih, dan jalur hiking Pegunungan Bintang.

“Alih-alih hanya menjual bahan mentah, kita harus mendorong produk setengah jadi dan jadi, sehingga memiliki daya saing nasional dan internasional,” terang Hilman.
APINDO hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat, bukan sekadar asosiasi pengusaha, tegasnya.
Mengacu pada data BPS, tingkat pengangguran terbuka Papua Tengah pada Agustus 2024 tercatat 4,8%, turun dari 5,7% di tahun sebelumnya. Sementara itu, sektor usaha telah menyerap sekitar 15.200 tenaga kerja lokal, naik 8% dari tahun sebelumnya. Jumlah UMKM pun tumbuh 12% dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 6%, dan pertumbuhan ekonomi Papua Tengah mencapai 5,2% pada 2024.
Meski demikian, tantangan infrastruktur dan logistik masih menjadi hambatan utama. APINDO menyoroti pentingnya kolaborasi multi-pihak, pemanfaatan teknologi, serta penguatan ekosistem distribusi produk berbasis digital untuk mengatasi masalah konektivitas.
Dalam pemaparannya, Hilman menekankan tiga pilar strategis konsolidasi organisasi APINDO Papua Tengah:
- Sekretariat yang kokoh dan representatif, lengkap dengan ruang informasi dan layanan anggota.
- Penguatan keanggotaan dari Nabire hingga kabupaten lain dengan nilai tambah nyata.
- Peran aktif dalam advokasi kebijakan, percepatan infrastruktur, dan dukungan UMKM.
Program unggulan seperti UMKM Merdeka juga diperkenalkan untuk memperkuat inkubasi UMKM lokal melalui pelatihan, akses pembiayaan, dan pemasaran digital.
Musyawarah ini diharapkan melahirkan kepengurusan yang profesional dan berwibawa serta program strategis yang mampu mendongkrak peran pelaku usaha dalam pembangunan Papua Tengah.
“APINDO Papua Tengah siap menjadi game changer yang mendefinisikan ulang wajah ekonomi regional. Kami ingin menghadirkan Papua Tengah yang berdaya, mandiri, dan bangga akan potensinya sendiri,” tutup Anthony Hilman.













