NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE, PAPUA TENGAH – Polres Nabire mengedepankan pendekatan preventif, persuasif, dan humanis dalam menangani delapan pelajar yang sebelumnya menjalani pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan dalam aktivitas pengibaran Bendera Bintang Kejora di kawasan Pantai Waroki, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, pada Sabtu Lalu (25/7/2026).
Setelah proses pemeriksaan, pendalaman, serta pembinaan selesai dilakukan, kedelapan pelajar tersebut dikembalikan kepada orang tua masing-masing dengan disertai penandatanganan surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa.

Wakapolres Nabire, Kompol Dr. Pieter Kendek, S.Sos., M.M., saat ditemui awak media di Mapolres Nabire, Senin (27/7/2026), menegaskan bahwa langkah kepolisian tersebut merupakan bentuk komitmen Polres Nabire dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus melindungi masa depan generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan ideologi negara.
“Penanganan ini kami lakukan dengan pendekatan yang terukur, preventif, persuasif, dan humanis. Tujuan kami bukan semata-mata penegakan hukum, tetapi juga memberikan pembinaan agar anak-anak tidak terjerumus pada pemahaman yang bertentangan dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Kompol Pieter Kendek.

Kompol Pieter menjelaskan, aparat kepolisian bergerak setelah menerima informasi mengenai adanya aktivitas sekelompok pelajar di kawasan Pantai Waroki yang diduga berkaitan dengan pengibaran Bendera Bintang Kejora.
Merespons informasi tersebut, personel Polres Nabire segera melakukan pengamanan secara profesional dan humanis. Di lokasi, petugas menemukan sekelompok pelajar, di mana terdapat sebagian kecil peserta yang membawa atribut berupa Bendera Bintang Kejora.
Sebanyak sekitar 64 pelajar kemudian diamankan ke Mapolres Nabire untuk dimintai klarifikasi guna mengetahui tingkat keterlibatan masing-masing dalam kegiatan tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar yang diamankan tidak mengetahui adanya agenda pengibaran Bendera Bintang Kejora.
“Mayoritas anak-anak yang kami mintai keterangan tidak mengetahui adanya agenda tersebut. Mereka hanya ikut berkumpul dan tidak memahami bahwa ada kelompok kecil yang memiliki tujuan berbeda,” jelasnya.
Namun, hasil pemeriksaan lanjutan menemukan delapan pelajar yang diduga memiliki keterlibatan lebih aktif, di antaranya mengajak peserta lain serta memberikan pemahaman yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan NKRI.
Selain memeriksa para pelajar, penyidik Polres Nabire juga mengamankan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Barang bukti yang diamankan meliputi:
- Dua lembar Bendera Bintang Kejora.
- Satu buah kampak.
- Satu bilah pisau.
- Sejumlah buku yang masih didalami penyidik karena diduga memuat materi yang bertentangan dengan ideologi negara.
Seluruh barang bukti tersebut kini diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Kompol Pieter mengungkapkan bahwa seluruh pelajar yang tidak terbukti memiliki keterlibatan langsung telah dipulangkan pada hari yang sama setelah menjalani pemeriksaan. Proses pemulangan turut disaksikan pihak sekolah yang hadir mendampingi para siswa.
Sementara itu, delapan pelajar yang menjalani pemeriksaan lanjutan juga telah dikembalikan kepada keluarga masing-masing setelah orang tua datang ke Mapolres Nabire, mengikuti proses pembinaan, dan menandatangani surat pernyataan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, salah seorang pelajar mengaku memperoleh Bendera Bintang Kejora dari rumah kerabatnya di kawasan SP2 dan menggunakannya untuk berfoto.
“Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, kedelapan pelajar tersebut kami serahkan kembali kepada orang tua masing-masing. Mereka juga telah membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa,” kata Kompol Pieter.
Di akhir keterangannya, Wakapolres Nabire mengajak seluruh orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, khususnya di luar lingkungan sekolah.

Menurutnya, pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, serta pemahaman mengenai nilai-nilai Pancasila harus terus ditanamkan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan ideologi negara.
“Peran keluarga dan sekolah sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Kami berharap anak-anak terus dibimbing agar tidak mudah terpengaruh oleh pemahaman yang bertentangan dengan ideologi negara sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang mencintai Pancasila, NKRI, serta memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkas Kompol Dr. Pieter Kendek.
Dengan mengedepankan pendekatan pembinaan dibandingkan tindakan represif terhadap pelajar, Polres Nabire berharap upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua Tengah dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masa depan generasi muda melalui edukasi, pembinaan karakter, dan penguatan wawasan kebangsaan.













