NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE, Papua Tengah – Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd., menegaskan pihak sekolah akan memperkuat pembinaan karakter, pendidikan nasionalisme, serta meningkatkan pengawasan terhadap siswa setelah lima peserta didiknya diduga terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan pengibaran Bendera Bintang Kejora di kawasan Pantai Waroki, Distrik Nabire Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan Suardiman kepada awak media di Mapolres Nabire, Senin (27/7/2026). Menurut Suardiman, pihak sekolah sama sekali tidak mengetahui aktivitas yang dilakukan para siswa di luar jam pelajaran. Ia menjelaskan, pada Sabtu (25/7/2026), seluruh kegiatan sekolah berjalan sesuai jadwal hingga pukul 11.00 WIT.
“Hari Sabtu kami melaksanakan dua jam kegiatan belajar mengajar, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Setelah seluruh kegiatan selesai sekitar pukul 11.00 WIT, para siswa sudah berada di luar tanggung jawab sekolah. Aktivitas yang mereka lakukan selanjutnya tidak diketahui oleh kepala sekolah maupun guru,” jelas Suardiman.
Suardiman mengatakan kegiatan yang dilakukan sekolah pada hari itu merupakan agenda rutin berupa pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan mengembangkan bakat serta karakter siswa.
Namun setelah jam sekolah berakhir, sebagian siswa diketahui mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.
“Kami sangat terkejut ketika mendapat informasi bahwa ada siswa kami yang diamankan. Dari pengakuan mereka, awalnya hanya diajak mengikuti kegiatan di Pantai Waroki dan penyambutan anggota baru organisasi Ikatan Pelajar Pegunungan Tengah (IPPT),” ujarnya.
Berdasarkan data yang diterima sekolah, dari delapan pelajar yang sebelumnya menjalani pendalaman oleh aparat kepolisian, lima orang merupakan siswa aktif SMA YPK Tabernakel Nabire, dua orang telah lulus dari sekolah tersebut, sedangkan satu pelajar berasal dari sekolah lain.
Suardiman menegaskan pihak sekolah menghormati proses yang dilakukan kepolisian dan menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada aparat penegak hukum.
Ia juga mengapresiasi langkah Polres Nabire yang mengedepankan pendekatan pembinaan terhadap para pelajar.
Meski demikian, pihak sekolah memastikan akan memberikan sanksi sesuai tata tertib pendidikan. Menurut Suardiman, sanksi yang diberikan bukan bersifat menghukum, melainkan lebih menitikberatkan pada pembinaan dan edukasi karena mayoritas siswa yang terlibat masih duduk di kelas X dan dinilai masih berada dalam masa pencarian jati diri.
“Persoalan sanksi tentu tetap ada. Tetapi bentuknya adalah pembinaan dan edukasi. Kami tidak ingin langsung mengambil tindakan yang terlalu berat karena mereka masih anak-anak yang membutuhkan pendampingan,” katanya.
Sekolah akan memanggil seluruh orang tua siswa yang terlibat untuk mengikuti pembinaan bersama serta menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka.
Sebagai langkah pencegahan, SMA YPK Tabernakel Nabire akan memperkuat pendidikan karakter melalui pembinaan keagamaan, mata pelajaran Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), serta kegiatan yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Suardiman menegaskan bahwa sekolah selama ini tidak memberikan ruang bagi organisasi di luar organisasi resmi sekolah.
“Di sekolah hanya ada satu organisasi resmi, yaitu OSIS. Kami tidak mengizinkan organisasi lain beraktivitas di lingkungan sekolah. Kalau ada aktivitas di luar sekolah, tentu berada di luar pengawasan kami,” tegasnya.
Ia mengakui sekolah memiliki keterbatasan dalam mengawasi perilaku siswa di luar jam belajar.
“Dari sekitar 560 siswa yang kami bina, waktu mereka di sekolah hanya dari pagi hingga siang. Setelah itu mereka berada di rumah dan di lingkungan masyarakat. Karena itu kami membutuhkan dukungan penuh dari orang tua untuk mengawasi aktivitas anak-anak,” ujarnya.
Suardiman berharap peran keluarga semakin diperkuat dalam membimbing anak-anak agar tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memberikan pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, sejak awal tahun ajaran sekolah telah menggelar pertemuan dengan seluruh orang tua siswa untuk menyampaikan program pendidikan karakter, pembinaan disiplin, serta penguatan wawasan kebangsaan.
“Kami tidak akan berhenti melakukan pembinaan. Pendidikan karakter, nilai keagamaan, dan nasionalisme akan terus kami tanamkan kepada seluruh siswa agar mereka tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Suardiman menjelaskan bahwa apabila terjadi pelanggaran berat yang berulang, sekolah akan mengambil tindakan sesuai tata tertib yang berlaku.
Namun, sesuai kebijakan dunia pendidikan saat ini, sekolah tidak lagi menggunakan istilah mengeluarkan siswa, melainkan mengembalikan siswa kepada orang tua.
“Istilah yang kami gunakan bukan mengeluarkan siswa dari sekolah, tetapi mengembalikan kepada orang tua. Tujuannya agar pendidikan anak tetap berlanjut, namun tanggung jawab pembinaan juga diperkuat di lingkungan keluarga,” pungkasnya.
Dengan adanya peristiwa tersebut, SMA YPK Tabernakel Nabire menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pembinaan karakter, pendidikan kebangsaan, serta mempererat sinergi antara sekolah, orang tua, dan aparat keamanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.













