>

GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah

By BusurNabire.id
Sabtu, 14 Maret 2026 01:20 WIB | 146 Views
GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)

NEWS.BUSURNABIRE.ID – Papua Tengah – Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia (GPMI-I) secara resmi menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi konflik yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Koordinator Emsol Duwitau dalam rilis kepada awak media pada Jumat, 13 Maret 2026 pukul 17.41 WIT.

GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)
GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)

Dalam rilis tersebut, Emsol Duwitau menegaskan bahwa kondisi di Intan Jaya saat ini dinilai telah memasuki fase darurat militer dan krisis kemanusiaan yang serius, yang diduga berkaitan dengan kepentingan investasi di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka sejak 1945, memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Selain itu, kewajiban negara juga ditegaskan dalam berbagai instrumen hukum internasional, termasuk Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR 1966), yang mewajibkan perlindungan terhadap hak asasi manusia tanpa diskriminasi.

GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)

Namun demikian, menurut Emsol, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik, khususnya di Tanah Papua. Meskipun Papua telah mendapatkan status Otonomi Khusus sejak tahun 2001, berbagai persoalan mendasar seperti ketimpangan pembangunan, konflik sosial, hingga pelanggaran HAM masih terus terjadi.

“Sejak tahun 2019 hingga 2026, Kabupaten Intan Jaya terus mengalami eskalasi konflik bersenjata yang berdampak langsung terhadap masyarakat sipil,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti adanya militerisasi ruang sipil melalui penambahan personel militer dan pembangunan pos-pos keamanan di tengah pemukiman warga. Kondisi ini, kata dia, telah menciptakan rasa takut dan trauma mendalam di tengah masyarakat.

“Ruang-ruang sipil seperti kampung, kebun, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga rumah ibadah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga  Kapolres Nabire AKBP Samuel Kerahkan 650 Personel, Aksi Mahasiswa Intan Jaya Berlangsung Aman dan Tertib

Konflik berkepanjangan tersebut juga berdampak pada meningkatnya jumlah pengungsi, hilangnya mata pencaharian, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.

GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)

Situasi semakin memburuk setelah terjadinya tragedi pembunuhan terhadap 12 warga sipil di Kampung Soangama, Kabupaten Intan Jaya. Hingga saat ini, kasus tersebut dinilai belum diusut secara transparan dan tuntas.

“Atas dasar itu, kami menilai pendekatan keamanan yang dilakukan selama ini belum mampu menyelesaikan akar konflik, bahkan justru memperparah krisis kemanusiaan,” tambahnya.

Dalam pernyataan sikapnya, GPMI-I menyampaikan sejumlah tuntutan penting kepada pemerintah, di antaranya:

  1. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Intan Jaya dan DPRD segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) Kemanusiaan untuk mengusut tuntas tragedi Soangama yang menewaskan 12 warga sipil.
  2. Mendesak pemerintah pusat untuk menarik militer non-organik dari wilayah sipil di Intan Jaya guna menghentikan militerisasi dan menjamin rasa aman masyarakat.
  3. Mendesak pemerintah daerah dan DPRD untuk memfasilitasi Komnas HAM melakukan investigasi independen dan transparan terhadap tragedi tersebut.
  4. Mendesak pemerintah daerah dan DPRD memfasilitasi dialog antara mahasiswa, tokoh masyarakat Intan Jaya dengan Presiden Republik Indonesia atau Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan guna mencari solusi atas konflik kemanusiaan yang terjadi.
  5. Menyatakan akan melakukan konsolidasi nasional dan mobilisasi besar-besaran apabila tuntutan tersebut tidak segera ditindaklanjuti.
GPMI-I Soroti Darurat Militer Intan Jaya Picu Krisis Kemanusiaan Papua Tengah (Foto: Daud Tigau)

Di akhir pernyataannya, Emsol Duwitau menegaskan bahwa sikap ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa terhadap kondisi kemanusiaan di Intan Jaya.

“Pernyataan ini kami sampaikan sebagai bentuk keberpihakan terhadap keadilan dan kemanusiaan bagi masyarakat Intan Jaya,” pungkasnya.

Berita Terkait

🌙 Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah 🌙 Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, S.H., bersama Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, S.Sos., M.Si., mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kepada seluruh umat Muslim di Papua Tengah dan di seluruh Indonesia. "Momentum Tahun Baru Islam hendaknya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan kepedulian sosial demi terwujudnya Papua Tengah yang aman, damai, maju, dan sejahtera," ujar Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley. Keduanya juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan semangat Hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi untuk terus bekerja, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan daerah serta menjaga persatuan dalam keberagaman. "Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan kemudahan bagi seluruh masyarakat Papua Tengah dalam menjalani kehidupan serta membangun daerah yang kita cintai bersama," tutup mereka. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Hijrah untuk Papua Tengah yang Harmonis, Maju, dan Sejahtera.
Ucapan Kapolda Papua Tengah Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah 🌙 Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K., M.Si., beserta Wakapolda Papua Tengah, Kombes Pol. Dr. Gustav R. Urbinas, S.H., S.I.K., M.Pd., M.H., mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kepada seluruh umat Muslim di Papua Tengah dan Indonesia. "Pergantian Tahun Baru Islam merupakan momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta meningkatkan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. Mari kita jadikan nilai-nilai hijrah sebagai inspirasi untuk terus berbuat kebaikan, menjaga persatuan, dan mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua Tengah," ujar Kapolda Papua Tengah. Kapolda juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan antarumat beragama demi terciptanya Papua Tengah yang aman, damai, dan harmonis. "Semoga di tahun yang baru ini Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan perlindungan-Nya kepada kita semua, serta memberikan kekuatan dalam menjalankan tugas dan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara," tutup Brigjen Pol. Jermias Rontini. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik, Papua Tengah yang Aman, Damai, dan Sejahtera. #TahunBaruIslam1448H, #Muharram1448H, #KapoldaPapuaTengah, #JermiasRontini, #WakapoldaPapuaTengah, #PapuaTengah, #PolriUntukMasyarakat, #Hijrah1448H, #BusurNabire, #PapuaDamai
🌙 Selamat Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.Semoga pergantian tahun ini men
WhatsApp Image 2026-03-19 at 23.10.55
WhatsApp Image 2026-03-20 at 22.08.45
Selamat-Hari-Lahir-4-1024x1024
Terbaru
Berita Populer
Nasional
Topik Populer
Anda tidak boleh menyalin konten halaman milik News.busurnabire.id ini
Tutup
Tutup