>

Analisis Dampak Konflik terhadap Harapan dan Pendidikan Deis Murib: Kisah Pemuda Pengungsi dari Puncak Papua Tengah

By BusurNabire.id
Senin, 16 Juni 2025 01:17 WIB | 569 Views
Analisis Dampak Konflik terhadap Harapan dan Pendidikan Deis Murib: Kisah Pemuda Pengungsi dari Puncak Papua Tengah (Foto: Istimewa)

NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire: |Konflik berkepanjangan yang terjadi di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, tidak hanya berdampak pada keamanan dan stabilitas wilayah, tetapi juga menyisakan luka dalam terhadap generasi muda. Salah satu potret nyata dampak tersebut adalah kehidupan Deis Murib, pemuda berusia 12 tahun yang terpaksa mengungsi dan terputus dari pendidikannya.

Deis Murib adalah siswa sekolah dasar asal Distrik Gome, Kabupaten Puncak. Anak yang dikenal patuh beribadah dan rajin membaca ini, menyimpan cita-cita besar untuk membangun kembali kampung halamannya. Namun, harapan itu terguncang akibat situasi konflik yang memaksanya meninggalkan sekolah dan rumahnya.

Setiap hari, sebelum pengungsian, Deis berjalan sejauh 5 kilometer menuju sekolahnya. Jalanan berlumpur dan medan terjal bukan penghalang. Dalam noken kecil hasil rajutan tangan sang nenek, ia menyimpan harapan-harapan besar: menjadi seseorang yang bisa “membalas budi” kepada orang tua dan kampungnya.

“Kalau saya berhasil, saya akan kembali ke kampung ini dan membangun,” ucapnya suatu kali, sembari tersenyum dan menggaruk kepala.

Namun, semua itu berubah saat konflik meluas. Rumahnya harus ditinggalkan. Sekolah tempatnya menimba ilmu terbakar, sementara gedung SMP di sekitar dijadikan pos militer. Ruang belajar berubah menjadi arena penuh senjata dan propaganda, menciptakan rasa takut bagi anak-anak seumuran Deis.

Situasi yang dialami Deis Murib menggambarkan bagaimana konflik menggerus harapan generasi muda di Papua Tengah. Beberapa dampak signifikan yang dirasakan antara lain:

  1. Kehilangan rasa aman – Hidup dalam bayang-bayang ancaman membuat Deis dan anak-anak lainnya kehilangan kestabilan.
  2. Ketidakpastian masa depan – Putus sekolah dan kehilangan arah menjadi realitas pahit yang harus ditelan.
  3. Terputusnya akses pendidikan – Tidak adanya kegiatan belajar-mengajar di wilayah konflik membuat Deis kehilangan kesempatan mengejar cita-cita.
  4. Hilangnya kebebasan – Aktivitas anak-anak seperti bermain, belajar, atau membantu orang tua di kebun menjadi terbatas karena ancaman militerisasi.
  5. Trauma kolektif – Kehidupan pengungsian menimbulkan tekanan mental berkepanjangan, mengikis identitas diri dan semangat anak-anak.
Baca Juga  John Gobai Bongkar Kunci Pemerataan Papua Tengah: Pemda harus membeikan Subsidi Pesawat Perintis layani Pegunungan

Di tempat pengungsian, Deis tinggal bersama belasan keluarga dalam kondisi serba terbatas. Akses terhadap makanan, kesehatan, dan pendidikan sangat minim. Buku bacaan menjadi barang langka. Namun, ia tetap setia membawa satu buku kecil berjudul “Minum Air dari Sumur Kita Sendiri” karya Dr. Sofyan Yoman.

“Kalau saya tidak membaca, saya tidak bisa belajar. Jadi, saya baca ini berulang kali,” katanya, sembari menunjukkan buku lusuh yang selalu disimpan dalam noken.

Konflik yang berlarut-larut menimbulkan dilema besar dalam benak Deis. Ia menyadari bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, ia hanya memiliki dua pilihan: angkat senjata atau terus bertahan demi pendidikan.

“Kalau tentara terus datang, saya ikut gerilya. Tapi kalau mereka pergi, saya mau lanjut sekolah,” ujarnya dengan raut penuh tekad.

Meski dalam keterbatasan, Deis menjadi simbol semangat bagi pelajar pengungsi lainnya. Ia aktif mengajak teman-temannya membaca dan berdiskusi soal masa depan. Kepemimpinannya tumbuh secara alami di tengah situasi sulit.

  1. Kemampuan adaptasi – Ia tetap semangat belajar meski tanpa ruang kelas.
  2. Kepedulian sosial – Membagi sedikit makanan, atau membantu teman-temannya yang lebih kecil membaca.
  3. Kesadaran kritis – Ia paham betul pentingnya pendidikan untuk masa depan masyarakat adat Papua.

Kisah Deis Murib menegaskan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran konflik dan kemiskinan struktural. Pendidikan bukan hanya hak, melainkan juga harapan terakhir bagi masyarakat yang tersingkir akibat konflik bersenjata.

Dengan pendidikan, Deis ingin menjadi agen perubahan yang mampu membangun kembali desanya. Ia tidak ingin balas dendam, ia hanya ingin belajar.

Cerita Deis Murib bukan hanya kisah seorang anak pengungsi. Ini adalah panggilan moral bagi semua pihak Pemerintah, militer, lembaga pendidikan, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat luas — untuk mendengar suara yang kerap terbungkam. Suara anak-anak Papua yang mendambakan kedamaian dan kesempatan untuk belajar.

Baca Juga  John NR Gobai Dorong Kapal Perintis Masuk Potowaiburu dan Pulau Mambor

Mis Murib, aktivis HAM dan pegiat literasi asal Papua yang juga penulis narasi ini, berharap kisah ini menjadi jendela untuk melihat sisi lain dari konflik Papua — sisi yang kerap tak terdengar: suara anak-anak, harapan, dan pendidikan.

Berita Terkait

🌙 Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah 🌙 Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, S.H., bersama Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, S.Sos., M.Si., mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kepada seluruh umat Muslim di Papua Tengah dan di seluruh Indonesia. "Momentum Tahun Baru Islam hendaknya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan kepedulian sosial demi terwujudnya Papua Tengah yang aman, damai, maju, dan sejahtera," ujar Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley. Keduanya juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan semangat Hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi untuk terus bekerja, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan daerah serta menjaga persatuan dalam keberagaman. "Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan kemudahan bagi seluruh masyarakat Papua Tengah dalam menjalani kehidupan serta membangun daerah yang kita cintai bersama," tutup mereka. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Hijrah untuk Papua Tengah yang Harmonis, Maju, dan Sejahtera.
Ucapan Kapolda Papua Tengah Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah 🌙 Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K., M.Si., beserta Wakapolda Papua Tengah, Kombes Pol. Dr. Gustav R. Urbinas, S.H., S.I.K., M.Pd., M.H., mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kepada seluruh umat Muslim di Papua Tengah dan Indonesia. "Pergantian Tahun Baru Islam merupakan momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta meningkatkan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. Mari kita jadikan nilai-nilai hijrah sebagai inspirasi untuk terus berbuat kebaikan, menjaga persatuan, dan mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua Tengah," ujar Kapolda Papua Tengah. Kapolda juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan antarumat beragama demi terciptanya Papua Tengah yang aman, damai, dan harmonis. "Semoga di tahun yang baru ini Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan perlindungan-Nya kepada kita semua, serta memberikan kekuatan dalam menjalankan tugas dan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara," tutup Brigjen Pol. Jermias Rontini. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik, Papua Tengah yang Aman, Damai, dan Sejahtera. #TahunBaruIslam1448H, #Muharram1448H, #KapoldaPapuaTengah, #JermiasRontini, #WakapoldaPapuaTengah, #PapuaTengah, #PolriUntukMasyarakat, #Hijrah1448H, #BusurNabire, #PapuaDamai
🌙 Selamat Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.Semoga pergantian tahun ini men
WhatsApp Image 2026-03-19 at 23.10.55
WhatsApp Image 2026-03-20 at 22.08.45
Selamat-Hari-Lahir-4-1024x1024
Terbaru
Berita Populer
Nasional
Topik Populer
Anda tidak boleh menyalin konten halaman milik News.busurnabire.id ini
Tutup
Tutup