NEWS.BUSURNABIRE.ID – NABIRE, PAPUA TENGAH — Program pembangunan Jembatan Garuda yang dilaksanakan TNI melalui Kodim 1705/Nabire mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran infrastruktur tersebut dinilai mampu membuka akses wilayah, mempercepat mobilitas warga, serta membantu masyarakat mengangkut hasil kebun dan kebutuhan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi salah satu topik utama dalam Podcast RRI Nabire bersama Kodim 1705/Nabire yang dilaksanakan di Ruang Data Kodim 1705/Nabire, Kelurahan Karang Tumaritis, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Jumat (14/8/2026) malam.
Podcast yang berlangsung tersebut mengangkat tema pencapaian program teritorial Kodim 1705/Nabire, khususnya pembangunan Jembatan Garuda, sekaligus berbagai program TNI yang telah dilaksanakan untuk mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah Kabupaten Nabire.
Kegiatan tersebut menghadirkan Dandim 1705/Nabire Letkol Arh Dwi Palwanto, Pendeta Konius Kogoya selaku Ketua Klasis sekaligus Pendeta Jemaat Gereja Baptis Bersatu Papua-Waroki, Ibu Murni selaku perwakilan Distrik Teluk Kimi/Staf Keuangan, serta Lesdi de Klerek sebagai presenter RRI Nabire.
Dalam podcast tersebut, Dandim 1705/Nabire Letkol Arh Dwi Palwanto menjelaskan bahwa pembangunan Jembatan Garuda merupakan bagian dari program pemerintah yang dipercayakan kepada TNI untuk membantu mempercepat pembangunan dan membuka akses masyarakat.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat sejumlah titik Jembatan Garuda yang telah selesai dibangun di wilayah Kabupaten Nabire. Jembatan tersebut tersebar di Girimulyo, Waroki, Teluk Kimi dan Legari.
“Program pembangunan jembatan ini merupakan salah satu program Bapak Presiden yang kami laksanakan melalui Kodim 1705/Nabire,” ujar Dandim dalam podcast tersebut.
Dandim menyebutkan, terdapat enam titik jembatan yang telah selesai dibangun, terdiri dari satu titik di Giri Mulyo, satu titik di Waroki, dua titik di Teluk Kimi dan tiga titik di Legari. Selain itu, terdapat sejumlah titik lainnya yang masih dalam proses pembangunan di wilayah Karadiri.
Pembangunan tersebut, kata Dandim, memiliki arti strategis bagi masyarakat karena jembatan tidak hanya menjadi sarana penghubung antarkawasan, tetapi juga memperpendek waktu tempuh dan memperlancar aktivitas ekonomi warga.
“Jembatan ini membantu akses ke mana saja, terutama ketika masyarakat membawa barang dalam jumlah banyak. Dengan akses yang lebih baik, mobilitas masyarakat menjadi lebih cepat,” jelasnya.

Letkol Arh Dwi Palwanto menjelaskan, keterlibatan TNI dalam pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari upaya membantu pemerintah sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah teritorial.
Melalui para Babinsa, Kodim 1705/Nabire terus melakukan pemantauan dan mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan pembangunan maupun peningkatan akses.
Titik-titik yang dinilai membutuhkan pembangunan kemudian dilaporkan melalui mekanisme yang ada agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pelaksanaan program pembangunan.
“Kami melalui Babinsa terus mencari titik-titik yang bisa dibangun. Dari lapangan kemudian kami laporkan ke pusat sehingga bisa dilakukan pembangunan,” ungkapnya.
Menurut Dandim, kondisi geografis Nabire menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pembangunan. Pengangkutan material menuju lokasi terpencil tidak selalu mudah karena keterbatasan akses dan kondisi medan.
Karena itu, pengerjaan Jembatan Garuda juga membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui semangat gotong royong. Dukungan masyarakat dinilai sangat penting untuk mempercepat pekerjaan sekaligus memastikan pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
Pendeta Konius Kogoya menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan TNI atas pembangunan Jembatan Garuda di wilayah Waroki.
Menurutnya, masyarakat selama ini menghadapi keterbatasan akses, termasuk anak-anak sekolah yang harus melewati jalur dengan kondisi kurang memadai.
“Kami sangat membutuhkan program seperti ini dan menyambutnya dengan senang hati. Kami juga sangat terharu karena pembangunan jembatan ini sangat membantu masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari berangkat ke sekolah,” katanya.
Ia menilai kehadiran TNI melalui pembangunan Jembatan Garuda menunjukkan perhatian nyata pemerintah terhadap masyarakat di wilayah yang membutuhkan infrastruktur dasar.

Pendeta Konius juga mengungkapkan bahwa sebelum pembangunan jembatan tersebut terealisasi, masyarakat sempat berupaya membangun akses secara swadaya. Warga bahkan mengumpulkan dana untuk membangun jembatan karena kebutuhan terhadap akses penghubung tersebut sangat mendesak.
“Jembatan ini sangat kami nikmati manfaatnya. Kami sebagai masyarakat sangat mendukung apa yang dilakukan TNI,” ujarnya.
Selain akses transportasi, pembangunan jembatan juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Hasil kebun kini lebih mudah diangkut karena kendaraan roda dua maupun roda empat dapat menjangkau lokasi yang sebelumnya sulit diakses.
Pendeta Konius berharap perhatian pemerintah terhadap Kampung Waroki dapat terus berlanjut, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar lainnya seperti penerangan atau listrik.
Manfaat pembangunan Jembatan Garuda juga dirasakan masyarakat di wilayah Teluk Kimi.

Ibu Murni, perwakilan Distrik Teluk Kimi, mengatakan kondisi jembatan lama yang digunakan masyarakat sebelumnya masih menggunakan material kayu dan sudah tidak layak untuk menunjang mobilitas warga.
“Masyarakat yang tinggal cukup jauh harus melewati jembatan tersebut untuk menuju jalan utama. Dengan adanya jembatan yang baru, perubahan yang dirasakan masyarakat sangat besar,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan jembatan baru memberikan rasa aman sekaligus memperlancar transportasi. Warga tidak lagi harus mengandalkan jembatan kayu yang kondisinya sudah kurang baik.
Aktivitas masyarakat, termasuk membawa hasil kebun dan kebutuhan sehari-hari, juga menjadi lebih mudah. Ia menyampaikan apresiasi kepada TNI yang telah hadir dan membantu membangun fasilitas yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
“Harapan kami, apa yang sudah dilakukan pemerintah pusat terkait jembatan dan akses yang sudah lancar ini dapat dijaga dan dirawat dengan baik. Jangan sampai dirusak,” katanya.
Tidak hanya pembangunan Jembatan Garuda, Kodim 1705/Nabire juga menjalankan program teritorial lainnya yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satunya adalah pembangunan sumur bor untuk membantu masyarakat mendapatkan akses air.
Dandim 1705/Nabire menyampaikan bahwa hingga saat ini sudah terdapat empat titik sumur bor yang selesai dibangun di Kabupaten Nabire.
Program tersebut sebelumnya direncanakan lebih luas. Kodim telah mengusulkan pembangunan tambahan sumur bor untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Selain program pembangunan jembatan, kami juga melaksanakan program pembangunan sumur bor. Saat ini sudah ada empat titik yang selesai dibangun dan kami juga mengajukan pembangunan tambahan,” jelasnya.
Dandim berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga dan dirawat bersama sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Dalam podcast tersebut, Dandim juga menyinggung rencana pengembangan akses jalan yang menghubungkan Nabire dengan Intan Jaya.
Menurutnya, rencana tersebut masih berada pada tahap survei dan membutuhkan koordinasi lintas satuan serta pemerintah terkait.
“Kita akan terus melihat kondisi di lapangan dan melakukan koordinasi terkait kebutuhan pembangunan serta akses masyarakat. Untuk program Jalan Trans Nabire–Intan Jaya saat ini masih dalam tahap survei,” katanya.
Apabila program tersebut dapat direalisasikan, pembukaan akses diharapkan mampu memberikan dampak besar terhadap konektivitas antarwilayah sekaligus mendukung mobilitas masyarakat.
Kodim 1705/Nabire juga akan berkoordinasi dengan Kodim lainnya apabila pembangunan akses tersebut masuk dalam wilayah teritorial satuan lain.
Menutup pembahasan, Dandim 1705/Nabire mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan merawat berbagai fasilitas yang telah dibangun.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun TNI, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat agar manfaatnya dapat bertahan lama.
“Kita bersama-sama menjaga kota dan wilayah kita agar lebih aman. Terutama jembatan, kami mohon agar dirawat dan bisa bermanfaat lebih lama untuk masyarakat,” pesannya.
Ia menegaskan, pembangunan tidak dapat dilakukan oleh satu atau dua pihak saja. Sinergi antara TNI, pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci agar program pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan warga.

Dandim juga membuka ruang bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk menyampaikan informasi apabila terdapat wilayah yang masih membutuhkan pembangunan jembatan, jembatan perintis maupun fasilitas dasar lainnya.
Dengan demikian, Program Jembatan Garuda Kodim 1705/Nabire tidak hanya menjadi pembangunan fisik, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas, mempercepat mobilitas, mendukung perekonomian masyarakat dan membuka akses bagi wilayah-wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur di Kabupaten Nabire, Papua Tengah.













