NEWS.BUSURNABIRE,ID – Nabire , Papua Tengah |Tradisi sakral Barapen atau bakar batu kembali menjadi simbol kuat persatuan, syukur, dan kebersamaan masyarakat adat di Tanah Papua. Bertempat di Kali Merah, Kampung Kalisemen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, ratusan masyarakat adat dari berbagai suku Nusantara berkumpul dalam acara Barapen Bersama Masyarakat Adat Nusantara Provinsi Papua Tengah yang dirangkaikan dengan Syukuran dan Peresmian Honai Adat Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara (PAMAN) Kabupaten Nabire, Senin (29/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung ini dipimpin langsung oleh Ayub Wonda, S.AB, selaku Kepala Suku D3N Kabupaten Nabire sekaligus Ketua Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara Provinsi Papua Tengah. Sekitar 300 orang masyarakat adat dari berbagai latar belakang suku dan wilayah turut hadir, menjadikan momentum ini sebagai salah satu peristiwa adat terbesar di akhir tahun 2025 di Kabupaten Nabire.
Acara ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas rampungnya pembangunan Honai Adat PAMAN, tetapi juga menegaskan kembali nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan lintas suku, serta komitmen masyarakat adat dalam mendukung persatuan, stabilitas keamanan, dan pembangunan di Provinsi Papua Tengah.
Peresmian Honai Adat PAMAN turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari unsur adat, TNI, Polri, serta lembaga masyarakat adat. Kehadiran para tokoh ini mencerminkan sinergi yang erat antara masyarakat adat dan aparatur negara dalam menjaga keharmonisan sosial di Papua Tengah.

Adapun para tamu undangan yang hadir Kapten Inf Suprasto Mami, Danramil 1705-01/Nabire, Ipda Bogi Transtanto, S.H., Kapolsek Nabire Barat, Sokrates Sayori, Ketua LMA Saireri II sekaligus Sekretaris Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara (PAMAN) Provinsi Papua Tengah, Fabianus Tebay, Kepala Suku Mee Simapitoa Kabupaten Nabire, Linus Kogoya, Sekretaris Suku D3N Kabupaten Nabire, Sem Wanimbo, Kepala Suku Dani Rayon Nabire Barat, Lukas Kosai, Kepala Suku Nayak Kabupaten Nabire, Maikel Rumatray, Kepala Suku Nuba Kabupaten Nabire
Kehadiran para kepala suku dan tokoh adat dari berbagai wilayah di Nabire mempertegas bahwa Honai Adat PAMAN bukan hanya milik satu kelompok, melainkan rumah bersama bagi seluruh masyarakat adat Nusantara di Papua Tengah.
Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan persiapan oleh masyarakat adat. Warga bergotong royong menyiapkan lokasi Barapen, mulai dari pengumpulan batu, kayu bakar, hingga persiapan bahan makanan berupa babi, ayam, dan sayur-mayur.
Prosesi pemanahan secara adat dilakukan oleh perwakilan tokoh masyarakat D3N terhadap empat ekor babi, sebagai bagian dari ritual sakral Barapen. Prosesi ini disaksikan dengan khidmat oleh seluruh peserta, menandai dimulainya rangkaian utama bakar batu.
Tak lama berselang, proses pembakaran babi dan ayam serta pengolahan sayur-mayur dimulai. Batu-batu panas disusun berlapis bersama bahan makanan, lalu ditutup rapat menggunakan dedaunan, menciptakan metode memasak tradisional khas Papua yang sarat makna filosofis.
Barapen bukan sekadar tradisi memasak, tetapi simbol kebersamaan, keadilan, dan kesetaraan. Seluruh makanan yang dimasak nantinya akan dinikmati bersama, tanpa memandang status sosial, suku, maupun latar belakang.
Proses memasak berlangsung, dan setelah dipastikan matang, seluruh rangkaian Barapen dinyatakan selesai.
Memasuki sesi utama, acara syukuran dan peresmian Honai Adat Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara (PAMAN) Kabupaten Nabire resmi dimulai. Acara dibuka oleh pembawa acara (MC) dengan penuh khidmat, dihadiri oleh seluruh undangan dan masyarakat adat yang telah berkumpul sejak pagi.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh hadirin berdiri bersama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Lagu Tanah Papua. Dua lagu ini menjadi simbol kuat perpaduan antara semangat kebangsaan dan jati diri kultural masyarakat Papua.

Doa bersama kemudian dipanjatkan, dipimpin oleh Pdt. Naftali Tabuni, S.Th. Dalam doanya, ia memohon berkat dan penyertaan Tuhan agar Honai Adat PAMAN dapat menjadi rumah damai, rumah persatuan, serta pusat musyawarah yang membawa kebaikan bagi masyarakat adat dan seluruh warga Papua Tengah.
Ayub Wonda, S.AB menyampaikan laporan selaku Ketua Pembangunan Honai Adat PAMAN. Dalam laporannya, Ayub mengungkapkan perjalanan panjang pembangunan honai yang penuh tantangan, namun akhirnya dapat diselesaikan berkat dukungan berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa bantuan awal pembangunan Honai Adat PAMAN berasal dari Kapolda Papua Tengah sebesar Rp50.000.000, yang diberikan atas kepedulian beliau setelah melihat belum tersedianya Rumah Nusantara sebagai wadah masyarakat adat.

Selanjutnya, pembangunan juga mendapat dukungan dari Penjabat Gubernur Papua Tengah dengan bantuan sebesar Rp500.000.000. Namun, dalam perjalanannya, proses pembangunan sempat mengalami kendala dan hambatan teknis yang menyebabkan pengerjaan terhenti sementara.
“Puji Tuhan, di tengah berbagai keterbatasan, jalan kembali terbuka melalui perhatian dan dukungan Pemerintah Pusat,” ungkap Ayub.
Ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang telah memberikan perhatian nyata terhadap kondisi masyarakat adat di Papua Tengah, sehingga pembangunan Honai Adat PAMAN dapat dilanjutkan dan diselesaikan hingga 100 persen.

Menurut Ayub, bantuan tersebut menjadi bukti nyata kepedulian negara terhadap masyarakat kecil dan masyarakat adat, sekaligus menjadi penyemangat untuk terus membangun masa depan yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengundang pemerintah untuk dapat hadir langsung melihat kondisi Honai Adat PAMAN serta kebutuhan-kebutuhan lanjutan yang masih diperlukan. Ayub menegaskan bahwa meskipun masyarakat adat berasal dari latar belakang sederhana, bahkan sebagian merupakan anak-anak yatim piatu, semangat untuk maju dan berkembang tidak pernah padam.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Sokrates Sayori, Ketua LMA Saireri II sekaligus Sekretaris PAMAN Provinsi Papua Tengah. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pembentukan kelembagaan masyarakat adat Nusantara di Papua Tengah dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan wadah pemersatu.
Menurutnya, PAMAN hadir sebagai langkah strategis untuk memperkuat persatuan, menjaga keharmonisan sosial, serta meneguhkan peran masyarakat adat dalam mendukung stabilitas keamanan dan pembangunan daerah.
Ia menjelaskan bahwa gagasan pembentukan organisasi ini telah dirintis sejak sekitar tiga tahun lalu, berangkat dari semangat bersama untuk mewujudkan Papua Tengah sebagai wilayah yang aman, damai, dan bersatu.
“Organisasi ini diharapkan menjadi sarana komunikasi, koordinasi, dan konsolidasi masyarakat adat Nusantara, sehingga perbedaan dapat dipersatukan dalam semangat kebersamaan,” ujarnya.
Sokrates menegaskan bahwa seluruh proses pembentukan organisasi telah melalui mekanisme dan prosedur resmi, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah di tingkat kabupaten maupun provinsi. Dengan berdirinya Honai Adat PAMAN, ia berharap lembaga ini dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Puncak rangkaian sambutan disampaikan oleh Kapten Inf Suprasto Mami, Danramil 1705-01/Nabire, pada pukul 13.10 WIT. Ia hadir mewakili Komandan Kodim 1705/Nabire yang berhalangan hadir karena mengikuti kegiatan kedinasan lainnya.

Dalam sambutannya, Kapten Suprasto mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselenggaranya acara peresmian Honai Adat Nusantara dengan lancar dan penuh makna.
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan Honai Adat PAMAN, baik dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, maupun masyarakat adat sendiri.
Menurutnya, Honai Adat PAMAN diharapkan tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang dialog, diskusi, dan musyawarah antar suku dan komunitas adat di Papua Tengah.
“Dari tempat inilah diharapkan lahir gagasan-gagasan konstruktif yang berorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menaruh harapan besar agar dari Honai Adat PAMAN kelak lahir pemimpin-pemimpin yang berintegritas, visioner, dan mampu membawa Papua Tengah menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera.
Sebagai tanda resmi peresmian, dilakukan pengguntingan pita, dilanjutkan dengan peninjauan Honai Adat PAMAN secara bersama-sama oleh para tokoh adat, perwakilan TNI–Polri, dan undangan lainnya.

Momen ini kemudian diabadikan melalui foto bersama, sebelum seluruh peserta mengikuti acara ramah tamah dan menikmati hidangan Barapen yang telah disiapkan sejak pagi.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir dalam suasana penuh keakraban, persaudaraan, dan rasa syukur.
Peresmian Honai Adat Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Nabire menjadi tonggak penting bagi penguatan peran masyarakat adat di Provinsi Papua Tengah. Honai ini diharapkan menjadi pusat kegiatan adat, ruang musyawarah, serta simbol persatuan lintas suku dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui momentum Barapen dan syukuran ini, masyarakat adat menegaskan komitmennya untuk terus menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat persaudaraan, serta mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Acara ini sekaligus menutup tahun 2025 dengan pesan kuat tentang persatuan, kebersamaan, dan harapan baru bagi masa depan Papua Tengah yang damai dan sejahtera.













