NEWS.BUSURNABIRE.ID-Nabire|:Langit mendung menyelimuti Nabire saat Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby, melangkah masuk ke lorong-lorong sempit Pasar Smoker. Tidak seperti biasanya, pasar terlihat lengang. Deretan lapak yang biasanya ramai, kini tampak sunyi.
Di sudut pasar, seorang mama Papua duduk memeluk dagangannya di atas tikar lusuh di sudut Pasar Smoker, dengan sekeranjang ikan yang sudah mulai mengering. Matanya menerawang, dan tangannya tak henti membenahi dagangan yang belum tersentuh sejak pagi.
Ketika Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby,S.Th menghampirinya, hanya satu kalimat yang keluar dengan suara parau:
“Tiap hari kami bawa pulang dagangan. Tidak ada yang beli. Kami harus makan apa, Nak?”
Ucapan sederhana itu mengguncang hati. Diben terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia duduk di samping sang mama, menggenggam tangannya, dan hanya bisa berkata, “Maafkan kami, mama.”
Kunjungan Diben Elaby ke Pasar Smoker, Pasar Oyehe, dan Pasar Kalibobo pada Jumat pagi 30 Mei 2025 itu menjadi saksi bisu dari kenyataan pahit: pasar-pasar tradisional di Nabire Papua Tengah kian sepi, dan rakyat kecil sedang bertahan hidup dalam sunyi.

Dalam kunjungan itu, Diben mendengar satu per satu cerita yang seragam: tidak ada pembeli, tidak ada uang, tidak ada harapan. Banyak mama-mama Papua yang memilih tidak membawa dagangan lagi, karena biaya transportasi ke pasar pun sudah tak sanggup mereka tanggung.
“Saya lihat seorang bapak duduk diam di lapak kosong. Katanya, sudah tiga hari dia tak jualan karena tak ada modal beli ikan. Ia hanya datang untuk berharap ada keajaiban,” kisah Diben, menahan isak.
Di balik lorong-lorong pasar itu, bukan hanya aktivitas ekonomi yang mati, tapi harapan hidup rakyat kecil yang perlahan padam.
Melihat kondisi memilukan itu, Diben dengan suara berat menyampaikan tekadnya:
“Kami di DPR Papua Tengah tidak akan tinggal diam. Rakyat sedang lapar bukan hanya perutnya, tapi juga jiwanya. Ini bukan soal angka anggaran. Ini soal kemanusiaan.”
Ia langsung memerintahkan agar komisi terkait di DPR Papua Tengah memanggil Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Koperasi & UMKM untuk sidak gabungan. Langkah ini bertujuan memastikan penyebab lesunya daya beli: apakah karena inflasi, distribusi barang yang terhambat, atau karena belanja publik yang belum dijalankan?
“Uang negara bukan untuk disimpan. Harus dibelanjakan untuk rakyat. Setiap hari rakyat menderita adalah bukti bahwa kita gagal.”

Dalam kunjungan itu, Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby tak hanya melihat dan mendengar — ia turun langsung, duduk bersama pedagang, memeluk mereka yang menangis karena dagangannya busuk tak laku, dan mengusap air mata anak-anak yang ikut orang tuanya berdagang tanpa harapan.
“Kami tidak butuh pencitraan. Yang kami butuh adalah kehadiran hati di tengah derita rakyat. Kalau kita benar-benar wakil rakyat, maka kita harus ada saat rakyat tak punya apa-apa.”
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegur keras Papua Tengah dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi. Dengan nada tegas, Tito menyatakan bahwa belanja daerah Papua Tengah baru 9%, meski pendapatan sudah 48%. Ini berarti uang daerah hanya mengendap di bank — tidak menggerakkan ekonomi, tidak menolong rakyat.

Menutup kunjungannya, Diben menatap pasar yang sepi itu sekali lagi. Di matanya masih terlihat bayangan mama-mama Papua yang menatap kosong ke jalan yang lengang. Ia berjanji akan membawa semua cerita ini ke dalam rapat-rapat resmi DPR Papua Tengah — bukan sebagai data, tapi sebagai jeritan hati rakyat yang butuh keadilan.
“Kami tidak ingin rakyat menunggu keajaiban. Kami ingin menjadi jawaban dari doa-doa mereka.”Tutupnya













