NEWS.BUSURNABIRE.ID – Paniai : Papua tengah |Suasana peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMA Negeri 1 Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, berlangsung dengan nuansa berbeda. Para pelajar tidak hanya mengikuti kegiatan seremonial, tetapi juga menyampaikan gagasan tentang kebangsaan melalui budaya lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Papua.

Melalui kegiatan Lomba Pidato Hari Kesaktian Pancasila antar kelas, para siswa mengangkat tema “Noken dan Pancasila: Merajut Persatuan dalam Bhinneka Tunggal Ika.” Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun SMA Negeri 1 Paniai ke-32.
Noken dipilih sebagai simbol utama karena memiliki nilai yang kuat dalam kehidupan masyarakat Papua. Tas tradisional khas Papua tersebut tidak hanya digunakan untuk membawa barang, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, kerja sama, dan hubungan sosial antaranggota masyarakat.

Dalam pidato yang disampaikan para peserta, noken dipandang sebagai gambaran keberagaman yang tetap dapat berjalan bersama, sementara Pancasila menjadi dasar yang menyatukan seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai latar belakang.
Perwakilan siswa dari kelas X, XI, dan XII tampil menyampaikan pandangan mereka mengenai pentingnya menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta mempertahankan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus melatih keberanian dalam menyampaikan pemikiran. Para pelajar juga diajak memahami bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SMA Negeri 1 Paniai Timur, Marcelina Mote, S.Pd., M.M., mengatakan kegiatan seperti ini penting untuk membentuk karakter peserta didik agar memiliki rasa percaya diri, kepedulian terhadap budaya, serta pemahaman tentang nilai kebangsaan.

Menurutnya, pendidikan karakter akan lebih mudah diterima siswa apabila dikaitkan dengan lingkungan dan budaya yang mereka kenal.
“Budaya lokal dan nilai Pancasila dapat berjalan bersama. Siswa perlu memahami bahwa menjaga identitas budaya daerah juga menjadi bagian dari menjaga kekayaan Indonesia,” menjadi semangat yang terlihat dalam kegiatan tersebut.

Dari hasil penilaian dewan juri, Ria Korina Nawipa dari Kelas X 7 berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua diraih Kesia Kayame dari Kelas XII A1, sedangkan Westing Bunai dari Kelas XI A4 memperoleh juara ketiga.
Selain menjadi ajang kompetisi, lomba pidato tersebut juga memperlihatkan bagaimana generasi muda Papua memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan mereka tentang masa depan daerah dan bangsa.
Melalui suara para pelajar Paniai, pesan tentang persatuan disampaikan dengan cara yang sederhana. Budaya Papua tetap menjadi identitas yang dibanggakan, sementara Pancasila menjadi nilai bersama yang menghubungkan seluruh masyarakat Indonesia.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMA Negeri 1 Paniai Timur akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk memahami arti keberagaman, persatuan, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
Dari Paniai, semangat kebhinekaan terus tumbuh melalui suara generasi muda Papua.













