NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | Dalam beberapa pekan terakhir, Kabupaten Nabire digemparkan oleh rangkaian aksi kekerasan sadis yang viral di media sosial. Mulai dari pembacokan dua warga di kompleks KPR Nabire dekat Lapas Kelas IIB, hingga kasus pembunuhan tragis di lokasi pembuatan batako Bumiwonorejo, masyarakat dibuat resah dan mempertanyakan situasi keamanan di kota ini. Ketakutan warga memuncak ketika video korban bersimbah darah tersebar luas dan memicu kecemasan publik.
Namun, teka-teki pelaku di balik rentetan kejadian keji tersebut akhirnya terjawab. Dalam konferensi pers resmi pada Kamis sore, 20 November 2024, Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu memimpin langsung pemaparan pengungkapan kasus fenomenal ini.
Dalam press release tersebut, Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K. memimpin langsung jalannya konferensi. Ia hadir didampingi Kasat Reskrim Polres Nabire IPTU Habibi Cendrawasih Solosa, S.Tr.K., S.I.K., Kasi Humas Polres Nabire IPTU Salahuddin, perwakilan Propam Polres Nabire, serta sejumlah anggota yang terlibat dalam proses penyelidikan kasus. Kehadiran para pejabat utama Polres Nabire ini menunjukkan keseriusan institusi dalam menuntaskan kasus-kasus fenomenal yang meresahkan masyarakat.
Di hadapan para jurnalis, Kapolres Nabire AKBP Samuel mengungkapkan bahwa satu pria berinisial JB (28), warga Seriwini, ternyata menjadi aktor utama di balik kejadian-kejadian kriminal yang sempat membuat Nabire tak tenang.
“Hari ini kami akan menyampaikan press release terkait pengungkapan kasus-kasus fenomenal dan viral yang belakangan ini mengganggu stabilitas keamanan di Kota Nabire,” kata Kapolres memulai keterangannya.

Pengungkapan yang dilakukan Polres Nabire ini bukan hanya soal tertangkapnya pelaku, melainkan soal bagaimana satu individu dapat memicu gelombang kekhawatiran publik melalui aksi-aksi kekerasan yang brutal, beruntun, dan dilakukan dalam rentang waktu berdekatan.
Kasus pertama yang membuka tabir ini adalah tindak pencurian dengan kekerasan (curas) di Jalan Martha Christina Tiahahu, Kelurahan Kalibobo. Kejadian tersebut berlangsung pada Selasa malam, 18 November 2025 sekitar pukul 20.00 WIT. Korban bernama Nur Hikmah Aliyah sedang dalam perjalanan ketika disadap pelaku.

Kapolres menjelaskan, JB sudah membuntuti korban beberapa waktu sebelum melakukan aksinya. Ketika merasa situasi memungkinkan, ia memukul kepala korban dari belakang hingga terjatuh ke aspal. Dalam keadaan sempat hilang keseimbangan dan kesakitan, korban hanya bisa berteriak meminta tolong saat pelaku membawa kabur sepeda motor jenis Honda Beat warna hitam-putih dengan nomor polisi PT 6593 AR.
Beruntung, jeritan korban didengar warga sekitar sehingga mereka segera keluar dan membantu mengejar serta mengamankan pelaku. Pelarian JB tak bertahan lama, dan ia diserahkan ke petugas Polres Nabire yang langsung bergerak melakukan penangkapan.

Dalam pembuktian kasus, polisi turut mengamankan berbagai barang bukti milik pelaku, mulai dari jam tangan, gelang-gelang yang dipakai pelaku, hingga pakaian loreng, kupluk, dan beberapa aksesoris bercorak bintang kejora yang digunakan pada beberapa aksinya. JB yang ditampilkan ke hadapan media duduk di kursi roda, sementara barang bukti ditata rapi sebagai bagian dari paparan resmi.
Namun, kasus ini hanyalah permukaan. Dari sinilah penyelidikan berkembang dan membuka fakta lebih gelap: pelaku ini bukan orang baru di dunia kriminal.
Setelah melakukan pemeriksaan mendalam, Unit Reskrim Polres Nabire menemukan fakta mencengangkan. JB ternyata adalah pelaku pembacokan viral yang terjadi pada 30 Oktober 2025 dini hari sekitar pukul 02.00 WIT, yang menimpa seorang pria bernama Muhammad Rafli Darmawan beserta Adiknya
Kejadian tersebut terjadi tepat di depan Lapas Kelas IIB Nabire, sebuah titik yang seharusnya menjadi area cukup terang dan ramai karena adanya penjagaan. Namun, pelaku memanfaatkan lengahnya suasana dini hari untuk melancarkan serangan brutal.
Dalam kejadian itu, korban mengalami luka bacokan mengerikan pada leher, jari tangan kanan dan kiri, kaki kiri, hingga bagian belakang tubuhnya. Benturan tebasan benda tajam tersebut membuat kedua korban harus menjalani perawatan intensif. Peristiwa ini cepat menyebar di media sosial, memicu kekhawatiran mendalam bagi masyarakat karena lokasinya berada tepat di jantung keramaian kawasan KPR Nabire.
“Ini salah satu kasus yang cukup viral. Korban tinggal bersama saudara-saudaranya, dan kejadian di depan lapas itu sempat menimbulkan kekhawatiran luas di masyarakat,” jelas Kapolres.

Banyak warga sempat bertanya-tanya bagaimana pelaku dapat melancarkan aksi sedemikian nekad dan mengapa korban dibacok tanpa ampun. Motifnya belum diumumkan secara pasti, karena penyidik masih mengembangkan keterangan lebih lanjut.
Puncak dari fenomena kriminal ini adalah kasus pembunuhan terhadap Agus Trianto, warga yang ditemukan bersimbah darah di area pembuatan batako Bumiwonorejo. Kejadian ini berlangsung pada Minggu, 16 November 2025 sekitar pukul 04.00 WIT.
Pembunuhan tersebut sempat viral setelah rekaman kondisi korban beredar luas di media sosial. Masyarakat mempertanyakan bagaimana seseorang dapat diserang secara brutal di lokasi kerja yang biasanya sudah aktif sejak pagi.
Dari hasil pengembangan polisi, JB ternyata kembali menjadi tokoh sentral di balik aksi tersebut. Yang mengejutkan, ia tidak bekerja sendirian. Ada dua terduga pelaku lain yang ikut terlibat dalam serangan yang menewaskan Agus Trianto. Identitas keduanya saat ini masih dirahasiakan demi kebutuhan operasi pengejaran.
“Pengembangan kami memastikan bahwa JB tidak sendiri. Ada dua temannya yang saat ini sedang kami lakukan pengejaran dan proses penyelidikan lebih lanjut,” tegas Kapolres.
Tragedi ini membuat masyarakat Nabire berduka sekaligus marah. Banyak warga mempertanyakan bagaimana pelaku dapat bebas berkeliaran dan melakukan kejahatan berantai tanpa tersentuh aparat hukum sebelumnya. Ada pula yang menganggap rangkaian kekerasan ini merupakan fenomena “pelampiasan” yang memerlukan penanganan serius agar tidak berulang.
Rangkaian kejahatan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Kejadian-kejadian tersebut telah menciptakan ketakutan kolektif di tengah masyarakat. Warga mulai membatasi aktivitas malam, sementara pengendara motor terutama perempuan enggan keluar sendiri setelah matahari terbenam.
Media sosial menjadi ruang diskusi panas. Banyak warga menilai bahwa kejadian pembacokan di depan lapas dan pembunuhan di Bumiwonorejo adalah sinyal bahwa tingkat kriminalitas di Nabire meningkat dan memerlukan penanganan ekstra.

Berbagai komentar publik, terutama di Facebook dan grup WhatsApp lokal, memperlihatkan betapa seriusnya pengaruh kejadian ini terhadap rasa aman warga. Ada pula permintaan agar Polres Nabire memperbanyak patroli malam dan meningkatkan pengawasan di titik-titik rawan.
Dalam konteks ini, keberhasilan Polres menangkap JB menjadi angin segar yang sangat berarti bagi stabilitas sosial di Nabire.
Dalam press release, Kapolres mengungkapkan rasa terima kasih kepada masyarakat yang turut memberikan informasi hingga proses penangkapan JB dapat berlangsung dengan cepat dan tepat sasaran.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi masyarakat Kabupaten Nabire dalam membantu kami. Kerjasama masyarakat sangat berperan penting dalam pengungkapan tiga kasus viral ini,” ujar AKBP Samuel.
Menurut Kapolres, pengungkapan ini adalah bukti bahwa kehadiran polisi dan kolaborasi warga mampu mengatasi gangguan keamanan yang mengancam kenyamanan publik. Ia berjanji bahwa Polres Nabire akan terus meningkatkan respon cepat, patroli, serta pengawasan di titik-titik yang dianggap rawan.
“Kami berkomitmen menciptakan rasa aman bagi warga Nabire. Kasus ini menjadi pembelajaran agar kita lebih waspada, dan kami memastikan pengejaran dua pelaku lainnya akan terus dilakukan.”
Saat ditampilkan dalam press release, JB tampak duduk di kursi roda. Polisi tidak memberikan detail cedera yang dialaminya, namun memastikan bahwa penanganan medis tetap dilakukan sesuai prosedur.
Barang bukti yang ditampilkan termasuk:
- Satu unit sepeda motor Honda Beat PT 6593 AR (milik korban curas).
- Jam tangan, gelang manik-manik, gelang tali rotan, dan aksesoris lain milik pelaku.
- Kaos, jaket, dan pakaian loreng yang sering digunakan pelaku.
- Kupluk, deker kaki, gantungan kunci bercorak tertentu.
Barang-barang ini disebut polisi sangat membantu dalam menguatkan dugaan keterlibatan pelaku dalam beberapa TKP berbeda.
Jika ditarik garis besar, tindakan JB memiliki pola yang konsisten:
- Aksi dilakukan pada jam rawan, terutama malam hingga dini hari.
- Menggunakan kekerasan fisik ekstrem, baik dalam bentuk pukulan hingga pembacokan.
- Target acak, tidak ada hubungan personal antara pelaku dan korban.
- Motif ekonomi diduga berperan, namun penyidik masih mengkaji apakah ada motif lain.
- Kemungkinan pengaruh lingkungan atau kelompok, mengingat ia tidak bekerja sendiri pada kasus pembunuhan.
Beberapa criminologist lokal menilai bahwa aksi semacam ini masuk kategori “impulsive violent crime” sekaligus kejahatan oportunistik, namun pola kekerasan yang dilakukan pelaku menunjukkan kecenderungan agresi berulang.
Dengan terungkapnya pelaku utama dalam tiga kasus yang membuat Nabire resah, warga kini dapat sedikit bernapas lega. Namun, Kapolres menegaskan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi. Partisipasi warga, kehati-hatian individu, dan pemantauan lingkungan tetap dibutuhkan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami akan terus bekerja keras memastikan Nabire kembali aman. Tapi masyarakat juga harus ikut berperan dengan segera melapor jika melihat hal-hal mencurigakan,” tutup Kapolres.
Kasus ini menjadi pengingat kuat bahwa kriminalitas dapat datang kapan saja dan dari siapa saja. Namun, dengan kolaborasi yang baik antara polisi dan masyarakat, kejahatan sesadis apa pun tetap dapat diungkap dan ditangani.













