NEWS.BUSURNABIRE.ID – Nabire | Aksi brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Aibon Kogoya kembali mengguncang Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, pada Jumat (17/10/2025). Dalam serangan bersenjata di wilayah Kalisemen, kelompok itu menembaki lima warga sipil dan empat anggota Polri, menewaskan satu warga sipil di lokasi kejadian.
Ketegangan segera menyebar ke kawasan Kilo 64, 74, dan 80 — area pendulangan emas yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Rasa takut dan panik membuat ratusan warga meninggalkan rumah, kebun, serta ladang mereka untuk mencari perlindungan di tempat yang lebih aman.
Selama tiga hari, Polres Nabire di bawah komando Kapolres AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K., melakukan evakuasi besar-besaran demi menyelamatkan warga dari ancaman lanjutan kelompok bersenjata tersebut.

Kepada awak media News.busurnabire.id, Kapolres Nabire Kapolres didampingi Wakapolres KOMPOL Dr. Piter Kendek, S.Sos., M.M., dan Kasi Propam IPTU Wido Purwanto menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan sejak Sabtu hingga Minggu (18–19 Oktober 2025) dengan melibatkan tim gabungan TNI–Polri.
“Total ada 362 warga yang berhasil kita evakuasi ke Nabire selama dua hari. Sebanyak 126 orang pada Sabtu dan 236 orang pada Minggu,” ungkap Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K., usai memimpin langsung proses evakuasi pada Minggu malam (19/10/2025).
Menurutnya, warga yang berhasil diselamatkan ditampung sementara di halaman Mapolres Nabire sebelum dijemput oleh keluarga masing-masing. Seluruh warga terlebih dahulu didata oleh petugas untuk memastikan keamanan dan identitas mereka.
“Puji Tuhan, Alhamdulillah, proses berjalan aman dan lancar. Dalam perjalanan menuju Nabire, tidak ditemukan keberadaan kelompok bersenjata. Namun kami tetap waspada penuh,” ujar Kapolres.
Kapolres menjelaskan bahwa medan yang dilalui selama proses evakuasi tidaklah mudah. Jalur Trans Nabire–Dogiyai dikenal berkelok tajam, diapit hutan lebat dan sungai kecil.
“Kami mengevakuasi warga mulai pukul 14.00 WIT. Karena membawa banyak orang, kami sengaja memperlambat laju kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan. Total perjalanan sekitar empat hingga lima jam,” jelas AKBP Samuel.
Setiap konvoi evakuasi dikawal ketat oleh personel bersenjata lengkap. Di tengah risiko serangan susulan, aparat tetap fokus menjaga keselamatan seluruh warga yang diselamatkan.
“Rekan-rekan kita ini bergerak tanpa henti, menjemput saudara-saudara kita yang merasa tidak aman sejak kejadian penembakan Jumat lalu,” ujarnya dengan nada haru.
Kapolres mengakui, sebagian besar warga yang dievakuasi masih mengalami trauma mendalam. Banyak dari mereka sempat bersembunyi di hutan selama berjam-jam bahkan berhari-hari sebelum ditemukan oleh aparat.
“Mereka butuh waktu untuk pulih. Kami berupaya memberikan rasa aman agar mereka tidak merasa sendirian,” tambahnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu menyesatkan pasca kejadian.
“Tanggung jawab keamanan bukan hanya di pundak Polri dan TNI, tapi tugas kita semua. Mari kita saling menguatkan dan membantu dalam informasi demi menjaga Nabire tetap aman,” tegas AKBP Samuel.
Dalam insiden penembakan di Kalisemen, empat anggota Polri menjadi korban tembak. Tiga di antaranya mengalami luka akibat serpihan peluru dan kini menjalani perawatan di RSUD Nabire, sedangkan satu anggota lainnya akan dirujuk ke Rumah Sakit Kramat Yatim karena proyektil peluru menempel di bahu kiri.
“Ketiganya sudah sadar dan dalam proses pemulihan. Untuk satu rekan kami, masih akan dilakukan tindakan lanjutan,” terang Kapolres Nabire.
Meskipun dalam suasana duka dan penuh tekanan, semangat para aparat di lapangan tidak surut. Mereka terus melakukan patroli dan pengamanan di sepanjang jalur Trans Nabire–Dogiyai guna mencegah serangan lanjutan dari kelompok bersenjata.
Untuk memastikan keamanan pascakejadian, Polres Nabire telah menambah 14 personel di Polsek Uwapa dan memperkuat tim SAMAPTA Polres Nabire guna melaksanakan patroli rutin di sepanjang jalur Trans Nabire.
“Kami tahu kondisi kita terbatas, tapi kami berupaya semaksimal mungkin. Setiap hari kami melaksanakan patroli, bahkan kadang tidak menggunakan kendaraan dinas agar pergerakan tidak mudah diketahui,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi keamanan adaptif agar masyarakat tetap merasa terlindungi meski situasi belum sepenuhnya pulih.
“Kami mohon maaf belum bisa menjaga seluruh wilayah secara sempurna, tapi kami tidak akan tinggal diam,” tegas AKBP Samuel.
Dalam keterangannya, Kapolres juga menyoroti kondisi medan di lokasi kejadian yang sangat sulit diakses.
“Kawasan itu berbukit dan berhutan lebat. Kalau kita paksakan pengejaran jauh ke dalam, dikhawatirkan justru menimbulkan korban baru di pihak masyarakat yang masih bekerja di ladang,” terangnya.
Meski demikian, Kapolres memastikan bahwa pengejaran terhadap pelaku penembakan tetap dilakukan dengan memperhatikan keselamatan warga.
“Kami tidak akan berhenti. Tapi kami juga utamakan keselamatan masyarakat,” tambahnya.
Menutup wawancara, Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu menegaskan komitmen kepolisian untuk terus menjaga keamanan di wilayah Papua Tengah, khususnya Kabupaten Nabire.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh doa dan kerja sama seluruh masyarakat. Kalau ada informasi sekecil apa pun, segera laporkan. Kami pasti tindak lanjuti,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati saat melintas menuju wilayah Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, sebab jalur tersebut masih dalam pengawasan ketat aparat.
“Kami akan terus patroli dan sterilisasi area demi menjaga keamanan warga yang beraktivitas di jalan Trans Nabire,” pungkasnya.













